bazar local brand chillax sudirman
#DiaryVeni,  Fashion,  Jewelry,  Store

Cerita di Balik Bazar Local Brand di Chillax Sudirman

Setelah dua hari perayaan Valentine, suasana langit mendung abu-abu dan gerimis di luar. Tapi tidak di dalam hall serbaguna Chillax Sudirman. Di dalam situ, suasana terasa lebih hidup dan berwarna. Di antara deretan tenant, event bazar local brand ini menghadirkan ruang temu yang hangat. Bukan hanya antara produk dan pembeli, tetapi juga antara cerita, kreativitas, dan identitas urban.

Event ini berlangsung dengan tajuk “The Art of Gifting” dalam rangka hari Valentine. Selain menawarkan diskon, bazar ini juga menawarkan banyak cerita pada masing-masing booth. Ketertarikan itu berasal dari orang hebat yang kutemui di balik bisnis mereka, yang memiliki keunikan ide dan konsepnya tersendiri.

Di bazar ini, ada banyak booth fashion, jewelry, parfum, makanan, dan sebagainya. Mostly banyak booth untuk lifestyle perempuan. Terlebih, diskon yang ditawarkan pun tidak main-main: banyak booth yang menawarkan diskon 10% sampai 50% pada produknya.

Aku sendiri tertarik dengan booth perhiasan. Maka dari itu, aku banyak berhenti di booth jewelry untuk melihat-lihat. Salah satunya di booth di mana pendantnya menggunakan bunga kering yang dilapisi resin epoksi, atau dikenal sebagai Pressed Flower Jewelry.

kalung
Salah satu booth yang menjual jewelry dengan konsep Pressed Flower Jewelry

Membaca Art Deco lewat Perhiasan

Awalnya, aku hanya ingin melihat-lihat kalung bergaya vintage. Di booth ini, kalung berbentuk bulat, berbatu pirus, dan kalung berpendant hati menarik perhatianku. Namun, mataku tertuju pada pendant kalung berpola geometris, dengan plate berwarna gold, dan rhinestone berwarna magenta. Desain ini mengingatkanku dengan seperti konsep estetika art deco – tegas namun dekoratif. Terlebih, rhinestone berwarna magenta di atasnya menambah kesan feminim.

pendant bergaya geometris di bazar local brand
Pendant geometris bergaya art deco, menonjol di antara bentuk perhiasan yang lebih organik.

Perhiasan dengan bentuk geometris ini bisa terbilang jarang ada, mengingat bentuknya yang kaku dengan aksen garis lurus atau pola berulang yang teratur. Namun, di tengah kecenderungan generasi muda yang lebih tertarik pada bentuk organik, Herloom Studio tetap menghadirkan desain geometris yang terasa segar, menjembatani selera yang beragam tanpa kehilangan karakter visualnya.

Mencari Aroma pada deocna

Karena parfumku hampir habis, aku singgah ke booth deocna. Tujuanku sederhana: mencari parfum beraroma floral, khususnya mawar – aroma yang pernah akrab denganku. Dari beberapa varian yang kucoba, penjaga booth memperkenalkan Aurora, dengan sentuhan mawar di top notes. Wanginya terasa manis dan segar, namun tidak mencolok, sehingga memberi kesan feminin yang sopan dan elegan.

Lalu, aku kemudian mencoba varian lain, Aureate, yang menghadirkan kombinasi grenadine dan citrus. Karakternya lebih kuat dan enerjik, dengan aroma yang langsung terasa hadir. Seakan-akan aromanya terus membekas di ingatan. Tak heran jika varian ini menjadi salah satu best seller deocna.

Pada akhirnya, pilihanku jatuh pada Aurora sebagai aroma utama, ditemani Aureate dalam ukuran travel. Percakapan panjang tentang parfum, preferensi, karakter aroma, dan kenangan itu justru menjadi bagian paling menyenangkan dari pengalaman ini. Hal ini mengingatkanku bahwa memilih parfum sering kali bukan hanya soal wangi, tetapi juga tentang proses menemukan aroma yang terasa paling “pas” sesuai karakter kita.

beli parfum deocna di bazar local brand
Menemukan aroma floral di booth parfum lokal deocna

Terobosan Baru pada Fashion Rajut Button On

Setelah memilih pendant kalung dan parfum, aku kembali berkeliling. Langkahku berhenti di sebuah booth knitwear bernama Button On. Sambil berbincang dengan sang founder, Kak Deby, aku kembali menyadari ketertarikanku pada busana rajut – terutama sebagai outer di musim dingin, karena karakternya yang tebal dan hangat. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda dari pendekatan fashion yang ditawarkan Button On.

bersama owner button on di bazar local brand
Bersama Kak Deby Linardo, founder dari brand rajut Button On.

Umumnya fashion rajut hanya sebagai outer atau pakaian khusus musim dingin saja. Ternyata, Button On menggunakan bahan rajut outfit daily yang casual namun tetap stylish, terlepas apapun musimnya. Hal ini menjadi konsep fashion rajut Button On, yang ingin menjadi pilihan daily wear di segala kegiatan.

Tagline “Knit Your Story With Us” merangkum konsep Button On secara utuh. Brand ini memosisikan busana rajut sebagai bagian dari keseharian: mudah dipakai dalam berbagai aktivitas, sekaligus menjadi bagian dari cerita personal para Button Friends, sebutan bagi komunitas pelanggannya.

Komitmen terhadap kualitas menjadi fondasi utama Button On. Seluruh koleksi dirancang menggunakan rajut 100% katun. Hal ini berangkat dari keresahan sang founder terhadap banyaknya busana rajut yang kurang nyaman dan tidak bertahan lama. Dari titik itu, Button On lahir dengan visi menghadirkan knitwear berkualitas tinggi bagi perempuan Indonesia.

Percakapan yang berlangsung cukup lama membuatku menangkap sesuatu yang terasa segar. Di tengah persepsi umum bahwa rajut kerap hadir sebagai outer atau busana musim dingin, Button On justru menawarkan pendekatan yang lebih kasual dan fungsional: knitwear yang dirancang untuk dipakai sehari-hari, tanpa mengorbankan kenyamanan maupun kualitas materialnya.

Perhiasan djoe&co. dan Cerita di Baliknya

Saat mantap berjalan ke luar untuk pulang, mataku tertuju ke perhiasan yang bentuknya paling unik di antara booth perhiasan yang lain. Jadi, aku memutuskan untuk berhenti sebentar ke booth itu, yang bernama djoe&co. sambil berbincang-bincang dengan Kak Vasthi – founder dan owner dari brand djoe&co.

Di balik barisan perhiasan yang tertata rapi, aku menangkap karakter kuat dari brand ini. Secara keseluruhan, desainnya cenderung organik – terinspirasi dari bentuk-bentuk alam, dengan sentuhan mutiara dan batu kristal yang memberi kesan mewah namun tetap manis. Ada nilai artistik yang terasa konsisten, tercermin dari pilihan bentuk hingga konsep booth yang tampil distinctive.

Perhiasan djoe&co.
(Foto diambil saat event bracelet making di Narabe Coffee)

Dari percakapan dengan sang founder, Kak Vasthi, aku mengetahui bahwa djoe&co. merupakan brand handmade jewelry dengan kualitas tinggi. Desainnya terinspirasi dari kehidupan pesisir yang modern, diramu dengan konsep “Goddess from the East” – sebuah interpretasi keindahan budaya timur yang diterjemahkan ke dalam desain perhiasan. Campuran elemen alami dan bentuk modern ini menghadirkan perhiasan yang merepresentasikan kekuatan, ketegasan, dan kemandirian perempuan, tanpa kehilangan sisi feminin yang lembut dan memikat.

Di titik ini, perhiasan tak lagi sekadar aksesori untuk mempercantik tampilan. Ia hadir sebagai medium cerita: membawa nilai kultural khas timur yang tercermin dalam setiap detail desainnya. Di tengah zaman modern, kecantikan perempuan Indonesia pun tak hanya diukur dari kemilau yang dikenakan, melainkan dari bagaimana perhiasan itu mampu menyuarakan nilai, identitas, dan warisan yang hidup dari generasi ke generasi.

Yang Aku Bawa Pulang dari Bazar Local Brand

Bazar local brand ini meninggalkan kesan yang lebih dari sekadar pengalaman berbelanja. Aku pulang tidak hanya membawa barang-barang baru, tetapi juga cerita—tentang proses, pilihan, dan nilai yang hidup di balik setiap produk.

Dari satu booth ke booth lain, aku belajar bahwa setiap brand memiliki bahasa dan visinya sendiri. Mulai dari bagaimana sebuah produk dirancang, bahan dipilih, hingga nilai yang ingin disampaikan kepada pemakainya. Di titik ini, harga tidak lagi berdiri sendiri; ia berjalan berdampingan dengan cerita, kualitas, dan niat di baliknya.

Bertemu langsung dengan para pelaku di balik local brand ini membuatku semakin menghargai keberanian mereka dalam berpikir berbeda dan membangun sesuatu dari ide yang personal. Pengalaman ini mengubah caraku memandang sebuah produk yang bukan hanya sebagai barang konsumsi, tetapi sebagai hasil dari proses kreatif.

Mendukung local brand Indonesia, pada akhirnya, bukan sekadar soal preferensi belanja. Ia menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas, keberanian, dan identitas yang terus tumbuh dan memilih untuk menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *