Liburan ke Curug Cilember: Dari Mendaki ke Curug 5 sampai Nyasar ke Atas Gunung
Setelah trip VOSAL ke Curug Nangka setahun yang lalu, kita berencana eksplor ke Curug yang lain. Kali ini, kita ke Curug Cilember, tepatnya ke Curug 5 Cilember dan Curug 7.
Sebenarnya, aku dan keluargaku udah pernah ke sana di tahun 2016. Habis cerita ke Sabrina, aku baru tahu kalo Curug Cilember itu punya beberapa titik curug (air terjun). Tapi aku dan keluargaku cuma ke Curug 7 aja. Dikarenakan hujan deras, kami langsung pulang ke villa dan nggak sempat eksplor ke tempat yang lain.
Sedikit Tentang Curug Cilember
Curug Cilember adalah tempat wisata air terjun yang berada di Cisarua, Bogor. Tempat wisata ini terkenal karena punya tujuh air terjun dalam satu lokasi, di mulai dari Curug 1 sampai Curug 5. Setiap air terjun memiliki ketinggian dan keunikan landscape yang berbeda.
Curug terdekat dengan pintu masuk adalah Curug 7. Semakin kecil angkanya, maka lokasi air terjunnya semakin jauh. Pengunjung hanya boleh trekking sampai ke Curug 2, karena akses ke Curug 1 lebih ekstrim.
Nah, untuk liburan kali ini, kami ke Curug 5 dan Curug 7. Jadi, artikel ini khusus membahas perjalanan kita mendaki ke Curug 5 Cilember.
Beli Perlengkapan di Decathlon
Sebelum ke Curug Cilember, aku udah berencana buat cari perlengkapan dari dua minggu yang lalu. Tapi, cuaca lagi nggak mendukung buat pergi ke luar: hujan deras setiap hari, alhasil banjir di mana-mana. Maklum menjelang Imlek. Jadi, persiapan perjalananku mepet karena kendala cuaca.
Biasanya, aku pergi ke Decathlon MOI di Kelapa Gading, buat cari perlengkapan olahraga atau perjalanan alam. Tapi, aku lihat di berita kalau jalan Boulevard Kelapa Gading sedang banjir, di mana jalan itu tepat di depan MOI. Akhirnya, aku pergi ke Decathlon Pondok Indah.
Sesampainya di sana, aku berencana untuk beli jaket dan topi anti air. Aku pikir lagi, sepertinya aku perlu beli topi aja. Pertimbanganku karena: Pertama, aku udah punya banyak jaket. Kedua, aku pun nggak bakal sering main ke alam. Ketiga, aku perlu topi untuk menghindari air hujan mengenai kacamataku.
Akhirnya, aku beli topi hiking yang anti UV, dengan bahan yang cepat kering ketika basah, seharga Rp 234.000.

Persiapan Empat Jam Sebelum Perjalanan
Aku sampai di rumah jam delapan malam. Karena kecapekan, bukannya langsung prepare, aku malah tidur. Perjalanan bolak-balik Cempaka Putih – Pondok Indah memakan waktu tiga jam dengan Transjakarta, jadi total perjalanan adalah enam jam. Perjalanan selama itu cuma bikin capek di jalan.
Aku kebangun jam dua belas malam, itu pun karena ibuku nelpon aku. Bayangin, kalo ibuku nggak nelpon, mungkin aku bakal kebablasan tidur dan nggak prepare. Aku juga kaget karena Sabrina nge-WA aku dari jam sepuluh malam, buat memastikan kita jadi pergi atau enggak.
Dengan buru-buru, aku prepare barang-barang yang diperlukan: baju ganti, alat mandi, obat-obatan, payung, skincare, makanan instan, minuman, alat makan, dan snack. Aku pun belum sempat beli snack dan Tolak Angin ke supermarket. Untung di sebelah rumahku ada warung madura yang buka 24 jam. Akhirnya, aku beli di situ. Warung madura emang penyelamat.

Menuju Stasiun Bogor
Seperti biasa, kita ngumpul di Stasiun Bogor. Aku cuma tidur sejam sebelum berangkat, lalu bangun jam lima pagi. Di jam enam, aku order Gojek ke Stasiun Juanda, lalu naik kereta jurusan Bogor.
Selama perjalanan di kereta, aku cari tempat duduk yang dekat sekat, biar aku bisa nyender dan tidur. Untungnya, aku dapat dan bisa sempatkan tidur selama satu jam tiga puluh menit. Jadi, aku nggak ngantuk lagi.
Sesampainya di Stasiun Bogor, aku duduk di charging corner untuk mengecas hape, sambil nunggu Sabrina dan Lisa. Empat puluh menit kemudian, Sabrina datang. Lalu, kita ngobrol lumayan lama sambil menunggu baterai hapeku penuh.
Kebetulan kita pengen sarapan. Jadi, kita ke luar stasiun. Akhirnya kita sarapan soto mie bogor, sambil nungguin Lisa.

Miskomunikasi Dikala Menuju Lokasi
Setelah Lisa datang, kita langsung naik angkot menuju Terminal Sukasari untuk transit seharga Rp 7.000. Setelah itu, kita naik angkot menuju Cisarua seharga Rp 15.000. Lalu, kita berhenti di pertigaan Jl. Hankam. Sesampainya di sana, kita ke Alfamart dulu buat beli cemilan dan perlengkapan yang nggak kita bawa.
Setelah itu, kita naik ojek pangkalan. Awalnya kita cuma menyebut nama “Cilember”. Mereka langsung mengiyakan dan pasang tarif Rp 15.000. Lumayan murah juga, pikirku. Tanpa pikir panjang, kita langsung naik.
Ternyata, ada miskomunikasi: opang kira, kita mau ke kampung Cilember. Lalu bapak ojeknya memastikan lagi, apakah kita mau ke kampung Cilember atau Curug Cilember. Kita jawab ke Curug Cilember. Dia pasang tarif yang berbeda lagi, yaitu Rp 25.000, karena jaraknya lebih jauh. Aku yang udah naik ke atas jok motor duluan langsung turun dari motor.
“Hampura, ya, teh. Biasanya orang sini kalo mau ke Kampung Cilember cuma nyebut Cilember, teh. Jadi saya kira teteh sama temen mau ke Kampung Cilember sana”, kata bapak ojeknya.
“Iya, nggak apa-apa, pak”, kataku santai. Aku juga nggak nyalahin mereka, karena salah kita juga nggak menyebut nama lokasi yang spesifik.
Setelah nego sebentar, akhirnya kita sepakat bayar Rp 20.000 per orang. Kebetulan, bapak ojek yang aku naiki udah tua renta. Aku jadi nggak tega buat tawar lagi.

Cerita dari Bapak Ojek
Sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, aku dan bapak ojek ngobrol. Dia cerita kalau masa mudanya ia bekerja sebagai staff hotel selama dua puluh tahun. Salutnya, dia menggerakkan para pekerja hospitality di salah satu daerah Bogor untuk unjuk rasa kenaikan upah di tahun 1986. Cerita yang hebat, pikirku.
Setelah itu, dia berpesan sama aku “Teh, nanti kalo udah nyampe sana jangan berisik, ya”
“Oh, iya, pak. Tenang aja, pak, saya pendiem kok orangnya”, jawabku bercanda.
Bapak ojek terkekeh “Soalnya dulu pernah ada kasus pengunjung cewek yang berisik, ngomong sama temennya sambil teriak-teriak. Habis itu langsung kesurupan, teh“
“Oh, gitu ya, pak” jawabku singkat.
“Iya, yang penting mah liburan ga usah aneh-aneh, teh. Dimana-mana yang penting sopan sama jaga ketertiban aja”, pesan bapak ojek dengan logat Sundanya yang kental. Aku hanya manggut-manggut.
Selama sepuluh menit perjalanan, kita sampai di pintu masuk Curug Cilember, dengan tarif Rp 20.000 per orang, setelah nego sebelumnya.
Sampai di Curug Cilember, Lalu Mendaki ke Curug 5
Sesampainya di depan loket, kita langsung beli tiket masuk seharga Rp 28.000 per orang di hari week end.
Memasuki area Curug Cilember, kita disambut keindahan lansekap aliran sungai kecil sepanjang jalan menuju curug. Karena banyak sungai kecil sepanjang jalan, kita berfoto-foto agak lama di sana.

Setelah perjalanan selama sepuluh menit, kita sampai di Curug 7, curug yang paling dekat pintu masuk. Sebenarnya, kita cuma mau lihat-lihat aja di sana. Tetapi setelah melihat plang penunjuk Curug 5, kita penasaran buat coba naik ke atas.


Untuk ke Curug 5, kami harus mendaki dengan menaiki tangga batu selama dua puluh menit. Aku semangat banget buat naik ke atas. Tapi lama-kelamaan, aku kecapekan sendiri diantara yang lain. Mungkin karena aku jarang olahraga, atau susah makan akhir-akhir ini. Sedangkan Sabrina dan Lisa kelihatan nggak secapek aku. Mungkin karena mereka udah pernah naik gunung, sedangkan aku belum pernah.
Tapi, rasa capek itu jadi nggak terasa karena mendaki bersama teman-teman, sambil menikmati pemandangan alam. Meski begitu, aku tetap harus hati-hati karena khawatir jatuh ke jurang, karena kadang-kadang aku jalan agak sempoyongan gara-gara kecapekan.
Sampai di Curug 5 Cilember
Sesampainya di Curug 5, ternyata keadaannya nggak seramai di Curug 7, dan mayoritas pengunjungnya itu remaja dan dewasa. Kita juga nggak lihat ada pengunjung anak-anak. Mungkin karena letaknya yang lebih tinggi dan harus naik ke atas dengan waktu yang cukup lama, jadi nggak memungkinkan buat anak-anak berkunjung ke sini.
Meskipun air terjunnya nggak sebesar dan selebar di Curug 7, tapi kami senang bisa menjelajahi curug yang letaknya lebih tinggi. Waktu dan lelah kami akhirnya terbayar dengan pemandangan menyegarkan Curug 5 ini.

Setelah meletakkan barang-barang kita di atas batu pinggir curug, kita menyempatkan diri buat menikmati pemandangan air terjun: hanya dengan melihat ke air terjun dan bermain air sebentar.
Drama Kompor Camping
Sabrina menyewa kompor camping, panci, dan gas kecil. Lalu, kita menyiapkan alat dan bahan untuk diseduh dan makan. Kita udah kesenangan duluan. Tapi nggak tahu cara pasang gasnya gimana. Alhasil, kita kebingungan di sana.
“Emang lu nggak diajarin dulu cara nyalainnya, Sab?”, tanyaku ke Sabrina karena udah kepalang bingung sehabis coba pasang gas tapi masih takut.
“Enggak. Masa diajarin, Pen?”, kata Sabrina sambil ketawa.
Mau lihat tutorial di Youtube pun susah, karena di atas sana nggak ada sinyal. Kita sampai nunggu tiga puluh menit, demi lihat tutorial cara pasang gas kompor camping di shorts Youtube.
Setelah lihat videonya, Lisa memberanikan diri buat pasang gas. Akhirnya berhasil! Tapi masalah nggak solved di situ aja: apinya nggak nyala karena pemantiknya bermasalah. Jadi, kita memberanikan diri buat pinjam korek api dari warung terdekat.
Setelah pinjam korek api, kita dekatkan korek ke pemantik apinya. Susah banget buat nyalain apinya, karena ketiup angin pun mati lagi. Jadi, kita berusaha nutupin kompor, biar nggak kena angin pas lagi nyalain korek dan pemantiknya. Akhirnya, setelah percobaan yang hampir bikin nyerah, kompor berhasil nyala. Thanks buat Lisa, sang adventurer sejati di VOSAL!
Karena pancinya kecil dan apinya besar, buat masak pun kita harus angkat pancinya agak tinggi, biar air mendidihnya gak meluap dan apinya nggak mati. Pegal, sih. Tapi, ya, dinikmati aja.

photo by Sabrina
Disana, kita makan mie dan menikmati minuman sachet masing-masing yang kita bawa. Aku bawa susu jahe, minuman favorit aku di kala udara dingin, apa lagi sambil menikmati air terjun. Keindahan alam yang diiringi semilir angin, dan aliran air yang jernih terasa nikmat sambil menyeruput susu jahe
Berfoto di Curug 5 Cilember
Setelah kenyang makan dan minum, kita mencoba berfoto di sana. Kami bertiga mencoba naik, tapi karena aku orangnya kaku, aku sering kepeleset pas menginjak batu. Terhitung udah empat kali aku terpeleset, dan akhirnya malas naik ke air terjun lagi. Jadi, aku hanya bantu mereka foto-foto saja.
Air cipratan air terjun menyebar kemana-mana. Makanya kita agak kesusahan untuk berfoto di sana, apa lagi kalau pakai tripod. Jadi, aku pakai waterproof hape, biar nggak basah. Tapi, hasil fotonya kurang memuaskan, karena waterproof hape yang aku pakai bikin foto terlihat buram karena berembun. Meskipun begitu, kita puas menikmati alam di Curug 5 Cilember ini.


Setelah jam empat sore, kita turun untuk pulang. Tapi, rasanya nggak lengkap kalau kita nggak ke Curug 7, curug yang tadi kita lewati. Jadi, kita menyempatkan diri untuk ke Curug 7 juga.
…
Awalnya, kami berniat turun untuk pulang saja. Tapi rasanya nggak lengkap kalau kami langsung pulang. Padahal tadi kami melewati Curug 7 sebelum naik ke Curug 5. Jadi, kami memutuskan buat mampir ke sana, meski cuma sekedar foto-foto.
Waktu kami tinggal sejam lagi, sebelum langit mulai gelap.
Menikmati Waktu yang Tersisa di Curug 5
“Nanti kita turun jam empat, ya,” kata Sabrina, sambil memberi waktu kami buat menikmati waktu yang tersisa di Curug 5.
Meskipun hanya sekedar duduk, ngobrol, sambil minum minuman yang kita seduh, kami masih betah di sana. Padahal, kami udah menggigil kedinginan. Aku sampai geli sendiri melihat kulit tanganku: bulu kudukku berdiri karena kedinginan.
“Ntar kita foto-foto, yuk, di Curug 7. Sayang banget kayaknya kalo kita nggak mampir bentar,” kata Sabrina.
“Yuk,” jawab aku dan Lisa setuju.
Langit makin terlihat gelap. Pengunjung pun makin sepi. Jam di layar handphone menunjukkan pukul 16.00. Kami langsung berkemas untuk turun ke bawah. Kami pastikan nggak ada sampah yang tertinggal. Jadi, aku relakan tote bag-ku yang harusnya jadi tas khusus barang basah, jadi trash bag untuk kami buang nanti ke tong sampah.
Turun Menuju Curug 7
Akhirnya, kami turun. Suhu makin mendingin. Ternyata, langit makin gelap bukan hanya karena hari semakin sore, tetapi karena mendung dan gerimis. Aku memakai topi hiking-ku lagi, biar kacamataku nggak kena air. Nggak cuma itu, jalan berbatu yang miring pun jadi agak licin karena bercampur tanah basah. Jadi, kami harus ekstra hati-hati untuk turun.
Meskipun gerimis dan gelap, tapi sinar matahari terbenam masih terlihat indah dengan kabutnya. Kadang, kami berhenti sebentar untuk menikmati pemandangan sekali lagi dari atas untuk menikmati pemandangan sore.




Sampai di Curug 7
Sesampainya di sana, ternyata masih banyak pengunjung yang bermain, termasuk anak-anak. Air terjunnya pun tiga kali lipat lebih besar dan luas daripada Curug 5. Airnya pun lebih deras. Kami sempat menikmati air terjunnya, meskipun nggak selama di Curug 5 tadi.

Setelah itu, kami memutuskan untuk foto-foto. Aku sibuk setting tripod agar dapat angle foto yang bagus.
Kadang-kadang, ada pengunjung yang gak sengaja kefoto, bahkan ikut-ikutan berpose saat kita lagi bergaya. Tapi, kita tetap enjoy. Buat masnya, fotonya kita masukin yaa. Hihihihi



Hari Makin Gelap, Langsung Pulang
Pengunjung semakin sepi di Curug 7 Cilember. Langit semakin gelap. Ternyata, jam sudah menunjukkan pukul 17.30. Kami harus cepat-cepat keluar sebelum adzan Maghrib.
Setelah keluar dari Curug Cilember, kami berfoto di depan plang nama Curug Cilember. Waktu aku sedang setting tripod, gerombolan ojek menghampiri kita. Lalu aku bilang ke Sabrina dan Lisa, “Eh, kata bapak ojek yang boncengin gue tadi, kalo bisa, jalan agak jauh dulu kalo mau naik ojek. Kira-kira 300 meter. Soalnya nanti harganya diketok tinggi kalo langsung naik ojek di sini.”
“Oke, ntar kita jalan kaki sebentar,” kata Sabrina.
Lalu, kami maju bertiga untuk foto. Ojek menawari bantuan untuk difoto. Tapi kami menolak dengan halus, karena sudah ada tripod.
Setelah berfoto, kita keluar, “Nggak naik ojek aja, teh?” tanya salah satu tukang ojek.
“Enggak, mang. Kita jalan kaki aja,” tolak Sabrina dengan halus.
Akhirnya, kami memutuskan buat jalan kaki sebentar.
Tapi kita nggak nyangka, kita bakal nyasar ke jalan yang lain….
…
this was how it start…
Memutuskan Untuk Jalan ke Luar Beberapa Meter
Setelah puas bermain di Curug Cilember, kami berfoto-foto depan plang Curug Cilember. Beberapa ojek pangkalan menghampiri kami buat naik motor mereka. Tapi kami memutuskan buat jalan dulu beberapa meter.

Aku membereskan tripod-ku. Lalu, kami bertiga langsung jalan ke luar menuju sebuah jalan satu-satunya yang hanya kami lihat.
Hari makin gelap, kami pun khawatir pulang kemalaman. Kami hanya melihat satu jalan tersebut. Jadi, kami berjalan agak cepat dan langsung berjalan menuju jalan itu tanpa ragu sedikit pun.
Rasanya Ada yang Aneh
Selama berjalan, kami keasyikan mengobrol. Berhubung jalanannya menanjak, kami berjalan dengan santai sambil menikmati pemandangan matahari terbenam. Nggak mungkin kan jalan nanjak begini kita buru-buru? Bisa-bisa cepet capek. Aku sendiri pun keasyikan foto-foto karena lihat pemandangan yang bagus dari atas.
Selama berjalan dan ngobrol, Sabrina diam sebentar, lalu bertanya “Guys, ini beneran jalan yang tadi bukan, sih?” tanya Sabrina di sela-sela obrolan.
“Bener, Sab. Lewat sini,” jawab Lisa meyakinkan Sabrina.


Setelah itu, kami lanjut mengobrol lagi. Nggak sekali doang Sabrina nanya ke kita, dia menanyakan hal yang sama berulang kali, begitu pun jawaban Lisa yang juga sama.
Aku yang terlalu fokus mendokumentasikan pemandangan cuek-cuek saja. Karena aku pikir, yang aku lihat nggak ada jalan lain selain jalan ini. Jadi, ya, memang harusnya jalan ini yang ditempuh.
Anehnya, selama kami berjalan, kami nggak lihat ada lalu lalang warga, suara warga atau pemukiman, atau kendaraan yang lewat. Yang kami lihat cuma jalan yang sepi, hutan, villa besar yang jaraknya berjauhan, dan jurang.



Di tengah perjalanan, akhirnya Sabrina berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, “Eh, kita beneran lewat sini?” tanya Sabrina sambil menyipitkan matanya, “Kok gue kayak (merasa) asing, ya?”
Akhirnya, aku juga merasa ada yang janggal, “Coba kita liat video gue yang tadi,” jawabku. Aku sendiri pun nggak tahu ini jalan yang benar atau bukan.
Ternyata Benar, Kita Nyasar
Aku berhenti merekam, lalu membuka galeri, mencari video perjalanan saat kami naik ojek ke Curug Cilember. Tapi bukannya berhenti dulu, kami malah tetap jalan. Aku jadi kesulitan mencari videonya, saking banyaknya video yang aku rekam. Jadi, butuh waktu lama buat cari video itu.
Sampai nggak lama kemudian, akhirnya kami menjumpai jalan buntu, yang diteruskan dengan jalan setapak tanpa aspal yang mengarah ke kebun dan jurang. Akhirnya, kami sadar kami salah jalan. Kami pun terkejut, lalu balik arah dengan buru-buru, karena langit makin gelap.
Selama berjalan balik arah, kami sebenarnya kesal karena niatnya jalan untuk pulang, kami malah naik ke atas puncak lagi. Tetapi, kami malah tertawa.
Seharusnya, saat kami menikmati pemandangan dari atas saja sudah menandakan jelas kalau kami makin ke atas. Tapi, selama ini, cuma Sabrina yang sadar. Aku dan Lisa denial dan tetap jalan, yang bikin perjalanan makin jauh dan lama.
Turun Lagi dan Bertanya ke Warga
Setelah menuruni jalan tersebut, kami menghampiri seorang amang yang sedang duduk di pos “Aa, punten, mau nanya, kalau jalan yang mau ke arah pertigaan Hankam lewat mana, ya?” tanya Sabrina.
Amang tersebut malah ketawa “Nyasar, ya?” tanya dia.
Kami langsung lihat-lihatan sambil malu, menertawakan nasib sebagai gerombolan cewek yang nyasar sehabis bermain di Curug Cilember.
Amangnya melanjutkan lagi “Tadi saya juga udah liat sih pas pada jalan ke atas. Cuma saya kira pada mau ke villa, soalnya ada villa yang lagi ngadain acara gitu, makanya pada nggak saya tanya. Atuh kalo sampe ke atas mah itu teh mau ke gunung” kata amangnya.
Kami bertiga langsung speechless.
“Kalau mau ke pertigaan Hankam, itu jalannya” amangnya menunjuk ke persimpangan jalan.
Ternyata, ada persimpangan jalan yang menuju ke bawah! Jalan se-bercabang dan sejelas itu, kami bertiga sama sekali nggak ada yang lihat! Padahal, posisi jalan tersebut persis di depan gerbang Curug Cilember yang kami lalui. Bahkan sebelum sampai di Curug Cilember, kami naik ojek melalui jalan tersebut! Lho, kok bisa!?
Logikanya, dengan posisi persimpangan yang tepat di depan gerbang itu, harusnya kami berhenti dulu dan diskusi, “Ini jalan pulang yang bener yang mana, ya?” Karena kami bertiga nggak ada yang lihat jalan itu, maka kami langsung trabas tanpa ba-bi-bu menuju jalan yang ternyata malah ke puncak.
Teringat Pesan Bapak Ojek Tadi
Setelah kami jalan sedikit ke persimpangan tersebut, kami sempat diam dan saling lihat-lihatan.
“Ngomonginnya jangan deket sini dulu, deh. Kita jalan agak jauh dulu,” kata Sabrina sambil menoleh ke arah gerbang Curug Cilember, lalu fokus jalan ke depan dengan tergesa-gesa.
Kami bergegas jalan menjauhi gerbang sekitar dua ratus meter. Selama berjalan, kami hanya terdiam tanpa membicarakan apa-apa, bahkan nggak berani untuk membahas kejadian nyasar tadi.

Setelah dirasa sudah cukup jauh dari lokasi, aku beranikan bilang, “Inget, nggak? Tadi gue cerita ke kalian pas bapak ojek yang boncengin gue tadi, pesan sama gue ‘kalo nanti pas di curug, katanya jangan berisik'”
“Duh, mana tadi gue ngomong kasar kan,” kata Lisa menyesal.
“Iya, lagi. Gue juga,” timpal Sabrina.
Begitu pun aku, yang di atas Curug 5 malah tertawa lepas sambil nyanyi-nyanyi karena kompor camping yang nggak nyala-nyala. Bisa jadi penyebabnya, salah satunya aku juga yang berisik karena tertawa lepas.
Yap, kami bertiga akhirnya mengakui salah. Seketika kami langsung merinding, bulu kuduk kami berdiri, sambil berjalan.
“Aduh, kita semua minta maaf, ya. Kalau misalkan bercandaan, perkataan, sama aktivitas kita ada sedikit mengganggu yang ada di sini. Maaf banget”, kata Sabrina sambil menangkupkan tangan.
Aku dan Lisa akhirnya minta maaf, sambil mengakui kesalahan masing-masing dan menangkupkan tangan.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan di jalan yang benar: jalan menurun menuju pertigaan Hankam, walaupun kaki kami sakit karena lecet dan pegal.
Yang Aku Lihat Waktu Itu
Seharusnya (dan memang faktanya) di depan gerbang Curug Cilember itu ada persimpangan dua jalan yang dipisahkan barisan rumah. Tapi yang aku lihat, barisan rumah itu menyambung ke barisan rumah di seberangnya, menyambung ke kedai bakso, sehingga aku tidak melihat ada jalan lagi. Begitu pun apa yang dilihat Sabrina dan Lisa.
Tapi sebenarnya, feeling aku berkata: harusnya ada persimpangan di jalan itu, entah kenapa, padahal aku nggak melihatnya. Hanya feeling-ku saja yang meyakinkan kalau harusnya ada persimpangan jalan, tetapi faktanya aku nggak melihat ada persimpangan jalan. Aku pikir, dengan berjalan menuju jalan yang ke puncak itu, mungkin nanti kita bakal ketemu persimpangan jalan. So, aku lanjut jalan saja.
Jadi, kami menganggap kalau waktu itu hanya ada satu jalan untuk keluar menuju pertigaan Hankam, padahal itu jalan menuju puncak.
Apakah Itu Jadi Penyebab Kami Nyasar Sehabis dari Curug Cilember?
Cerita nyasar setelah bermain di Curug Cilember kali ini benar-benar absurd. Kalau di bilang takhayul, tapi yang mengalami semuanya. Setelah aku baca beberapa sumber dari internet, ternyata Curug Cilember ini salah satu curug paling angker di Jawa Barat.
Jadi, apakah benar-benar itu alasannya kami bisa nyasar sehabis dari Curug Cilember? Entahlah, kami pun nggak tahu jawabannya. Mungkin percaya – nggak percaya, hal itu benar-benar terjadi pada kami.
Kalau dibilang halusinasi, mungkin kalau yang mengalami hanya satu orang, boleh dibilang begitu. Tapi kalau semuanya mengalami, hayoo, mau dibilang apa?
Kesimpulan Perjalanan Secara Keseluruhan
Menurutku, cerita liburan ke Curug Cilember kali ini benar-benar mencengangkan daripada perjalanan yang lalu-lalu: seru, dan sedikit menegangkan. Apa lagi di tambah cerita nyasar sehabis bermain di Curug Cilember.

Emosi yang kami rasakan waktu itu campur aduk sekali: lelah, kesal, kaget, takut, dan lucu. Tapi, kita bawa happy dan ketawa saja agar perjalanan tidak terasa makin melelahkan. Entah kenapa, cerita bepergian itu rasanya kurang asyik kalau nggak ada bumbu-bumbu cerita yang melenceng dari batas normal cerita keseharian biasanya.



2 Komentar
Ping Balik:
Ping Balik: