Model’s Diary: Sheer Elegance dan Ruang yang Diberikan Sebuah Busana
Aku membuka lembaran tahun 2026 dengan pengalaman yang berbeda. Di tanggal 10 Januari, aku maju ke panggung fashion show Kelasmodelling.id x Dresshaus Festive Season Runway di Senayan City Mall. Ini adalah event seasonal, mengingat bulan puasa makin dekat di awal tahun.
Gladi bersih dimulai pukul delapan pagi. Waktu itu, mall masih tutup dan panggung terasa lengang. Meski belum ada pengunjung, ketegangan justru lebih terasa. Memang, ini bukan pertama kalinya aku tampil di depan publik: aku pernah tampil sebagai penari, paskibra, hingga kelompok menyanyi.
Namun, kali ini berbeda: aku tampil sebagai model. Di atas panggung, tubuhku tidak hanya hadir, tetapi juga membawa sesuatu yang ingin disampaikan melalui busana yang kupakai. Di situlah aku mulai memahami bahwa menjadi model bukan sekadar soal tampil, tapi soal bagaimana tubuh bekerja sebagai bagian dari narasi visual.
Dalam model’s diary fashion show ini, aku akan share pengalaman pertamaku sebagai model di atas runway.
Lebih dari Sekadar Patung Berjalan

Banyak orang menganggap bahwa menjadi model itu hanya bergaya di depan panggung dan kamera. Faktanya, stereotip itu berbeda dari yang kurasakan: tubuhku menjadi medium visual. Tubuh pun turut membawa pesan lewat gerak, dan bagaimana busana merespons tubuh yang memakainya. Di sinilah tubuh beralih fungsi menjadi alat komunikasi.
Sehingga lambaian kain saat aku melangkah turut memberi efek visual dan rasanya tersendiri. Jadi, model bukan hanya patung berjalan: ia turut mengkomunikasikan estetika visual pada setiap detil potongan, embroidery, dan layer pada busana yang ia kenakan. Ia juga merasakan kehadiran di setiap layer kain yang menyentuh pada tubuh.
Sheer Elegance di Balik Layer
Aku menyebut busana yang aku bawakan ini sebagai Sheer Elegance, sebuah keanggunan yang subtle. Potongannya yang loose memberikan ruang bernapas pada tubuh, menciptakan siluet yang mengalir dan melambai mengikuti irama langkahku saat catwalk, seolah-olah memberikan kebebasan gerak setiap aku melangkah.
Busana ini terdiri dari dua layer: inner layer yang berbahan satin dan outer layer bermaterial tulle. Inner layer berfungsi sebagai fondasi dari busana ini. Ia memberi latar yang halus sehingga bordir tulle terlihat jelas, tapi tidak mengungkap tubuh. Hasilnya, efek sheer terasa elegan dan santun, bukan terbuka. Inner inilah yang membuat transparansi terlihat sebagai lapisan estetika.
Outer layer memainkan embroidery dengan cerdas: motif embroidery kelopak bunga memberikan sentuhan visual yang subtle, menciptakan aksen visual yang manis tanpa terlihat berlebihan.
Saat gerak tangan mulai bermain, outer ini membingkai tubuhku dengan volume yang dramatis namun tetap terlihat anggun. Potongan lengannya sangat lebar dan menyatu, sehingga memberi efek visual yang megah saat aku mengangkat tangan. Kainnya pun mengikuti arah gerak lengan, seakan mengalir mengikuti kebebasan gerak tubuhku.
Secara keseluruhan, setiap detil potongannya memberikan efek fluid sehingga mengalir bebas dalam setiap gerakan, terutama saat aku catwalk dan berpose. Busana ini berhasil membuktikan bahwa efek transparan bisa tampil sangat dramatis namun tetap subtle dan santun.

Modest Wear dan Perayaan yang Bermakna
Berjalan di panggung dengan busana ini tidak membuatku merasa harus sedang memamerkan sesuatu. Justru sebaliknya, aku merasa diberi ruang untuk bergerak, berdiri, dan hadir tanpa harus mengatur diri.
Selain itu, aku juga diberi ruang untuk memaknai setiap detil busana yang lebih dari sekadar estetika visual. Terlebih jika memandangnya dari perspektif model itu sendiri.

Untuk merasakan sebuah karya seni, orang itu harus merasakannya dan memaknai sendiri. Sebagai model, makna ini untuk dirasakan. Dalam model’s diary fashion show ini, mungkin itulah makna paling personal dari busana yang kupakai hari itu: tentang merasakan bagaimana sebuah busana yang aku kenakan bisa membiarkan tubuhku menjadi dirinya sendiri.


