veni baca buku courtney love pada tahun 2024
#DiaryVeni,  Mental Health,  Opinions,  Self Awareness

Problem Klasik: Perfeksionisme yang Mengganggu

Sudah 5 tahun lamanya aku bergelut dengan perfeksionisme yang mengganggu. Hal itu juga mengganggu jam tidur dan ketenangan aku.

Sampai pada saatnya aku dikenal dengan orang yang perfeksionis oleh orang terdekatku.

“Lo tuh perfeksionis banget ya”

Begitulah kata temanku saat mendefinisikan aku.

Bagi yang kenal aku banget, pasti udah tau karya gambar sama tulisan aku. Atau saat aku ngatur orang-orang dalam kerja tim, berhubung aku sering diberi kepercayaan untuk memimpin atau mengatur.

Aku cuma bisa mengelak “Ah, enggak lah! Gue mah santai orangnya.”

Aku selalu mengelak kalau ada yang bilang aku ini perfeksionis. Jadi, aku bakal ngeluarin jawaban andalanku seperti kalimat di atas.

Apalagi kalo ada yang ngehubungin sama zodiak aku yang Virgo. Meskipun di semua horoskop itu Virgo terkenal akan perfeksionismenya, aku bakal mengelak. Karena ya emang pada dasarnya aku nggak percaya zodiak.

I don’t trust zodiacs, period.

Tapi, tetap saja, mau gara-gara zodiak atau habis lihat karyaku, faktanya emang aku perfeksionis. Aku nggak bisa mengelaknya.

Sebab Aku Perfeksionis

Aku perfeksionis karena sempat dituntut di lingkungan yang kompetitif, yang dimulai dari SD.

Tahun 2006, aku diikutsertakan dalam lomba Buku Harian Bergambar Enikki. Guruku, Bu Rojiah, sadar lihat potensi menggambarku. Lalu dia menyarankan ibuku buat ikut lomba Enikki. Kalau lolos penjurian nasional, gambarku bisa dikirim ke Jepang buat masuk penjurian internasional.

Coba, ibu mana sih yang nggak antusias kalau denger karya anak bisa dikirim ke luar negeri? Aku kalo jadi ibu-ibu pasti juga bakal antusias banget.

Jadi, aku harus gambar sebanyak sepuluh lembar, di mana narasinya sudah diatur di bawah kotak untuk menggambar dalam waktu seminggu. Aku dapat ‘hak istimewa’ buat ngerjain sedikit PR biar fokus ikut lomba waktu itu.

Meskipun nggak lolos penjurian sampai Jepang, tapi aku turut senang.

Lalu, kompetisi beralih ke majalah pada tahun 2008. Di mana gambar aku sudah dimuat dua kali di majalah Mombi. Bangganya bukan main saat Mombi, majalah kesayanganku, memajang karyaku. Terlebih, dapat hadiah dan uang tunai pula.

Kompetisi yang Berlanjut

Saat SMP, aku nggak berkompetisi di bidang menggambar lagi. Aku berkompetisi di bidang tari tradisional. Hingga di tahun 2013, grup tari kami dapat juara dua di tingkat kecamatan.

Aku dapat NEM 34,85 setelah lulus SMP. Setelah itu, aku memasukkan SMA yang dekat rumah saat daftar PPDB, karena ibuku nggak mau aku sekolah jauh-jauh dari rumah.

Padahal waktu itu, aku mau masukin SMA 70 dan SMA 68 saat daftar PPDB. Bagi yang ngerasain ribetnya administrasi PPDB dan hidup di era Kurtilas, pasti tahu ya dua SMA itu bertaraf RSBI. Tapi paling utama, aku mau masuk SMA 68 karena masih satu kota tempat aku tinggal.

SMA-ku nggak bertaraf apa-apa, baik SSN maupun RSBI. Tapi, aku langsung masuk kelas unggulan di kelas X.

Titik Terendah

Kompetisi makin berat begitu naik ke kelas XI dan aku tetap di kelas unggulan. Kompetisi makin berat dan sengit. Aku harus berkompetisi di semua bidang akademik dan non-akademik seperti ekskul Paskibra.

Tapi, aku tetap bisa berkarya seni saat SMA. Aku bersyukur karena ada karyaku yang dipajang di sekolah oleh Pak Mawarno selama pelajaran Seni Budaya. Ada dua gambarku yang terpajang di sekolah, tepatnya di tangga sekolah. Aku bangga dan senang.

Tapi, tetap aja sekolah yang aku jalani makin berat.

Di tahun kedua, tuntutan itu makin berat: kami harus belajar lebih giat lagi biar nilainya jadi paling bagus dari kelas lain. You can say, kelasku jadi kelas percontohan buat kelas lainnya.

Selama masa SMA itu, belajar sampai jam 3 malam sudah biasa karena bobot PR yang lebih berat dari kelas lain. Bahkan aku jarang banget main saat SMA dan sempat depresi. Temanku ada juga yang depresi sampai rawat jalan psikiater.

Karena semangat belajar yang menurun, stress karena orang tua yang sering berantem, nilaiku menurun. Aku sampai ada di ranking terakhir dalam satu kelas unggulan itu. Ranking ke 34 dari 34 anak.

Malu? Iya, malu banget.

Sedih? Aku udah nggak sedih lagi. Aku udah di tahap depresi.

Takut Kejadian yang Sama Terulang

Malunya bukan main kalo kamu udah dikenal masuk kelas unggulan selama dua tahun, lalu berakhir ke kelas yang berisik dan suka main. Aku merasa nggak cocok buat berbaur dengan mereka, begitu pun mereka yang masih mikir-mikir buat berteman sama aku karena bekas kelas unggulan.

Tapi di akhir masa SMA, aku bersyukur beberapa dari mereka berusaha merangkul aku pas kesepian. Waktu photoshoot buku tahunan sekolah, aku sedih banget nggak ada yang mau foto sama aku. Mereka malah ngelempar-lempar nama aku “Noh, siapa tuh yang mau ama Veni?”

Beruntung Adella Marpaung, Savira, Hanan, dan Fatika mau masukin aku ke grup foto mereka sebelum ke studio. Big thanks for them all!

Lalu, menjelang UN, aku yang udah muak belajar malah main iceskate sama Fitria di Skyrink Mall Taman Anggrek. Hal itu jadi momen yang bikin aku bersyukur banget.

Aku nggak menyesal sama sekali pernah main menjelang UN. Padahal dulu menjelang UN SMP, aku sadar diri banget buat nggak main dan fokus belajar. Menjelang UN SMA ini, aku memilih buat nggak belajar.

Tapi, rasa terbuang dan dilempar-lempar itu bikin aku trauma dan nggak hilang. Aku takut nggak ada yang mau berteman sama aku.

Bayangin, nggak ada yang bangga namamu bersanding dengan mereka, karena kamu bukan siapa-siapa. Mereka ngelempar kamu ke circle yang lain karena nggak ada yang mau berteman sama kamu. Tapi circle yang lain juga nggak mau berteman sama kamu. Padahal, prestasi kamu udah jelas. Orang udah tau karyamu. Sakit, ‘kan?

Takut Dibuang

Karena kuliahku jurusan arsitektur, dan memang tugasnya sangat menyita waktu dan tenaga sampai begadang, aku jadi kecanduan ‘kerja keras’. Fokus ngerjain perancangan bikin aku lupa sama semua traumaku yang dulu.

Aku suka bikin karya. Untungnya, jurusan arsitektur ini bikin aku lupa sama semua traumaku. Aku jadi makin perfeksionis dan menikmatinya. Tapi di lain sisi, aku jadi orang yang suka menghindar pada kenyataan. Kenyataan kalau aku takut dibuang lagi dan nggak diakui orang di sekitarku.

Aku takut kalau karyaku nggak sempurna, suatu hari orang akan membuangku. Perfeksionisme ini emang bikin aku fokus buat ngeluarin effort terbaik, tapi lama-lama mengganggu mentalku juga.

Maka dari itu, aku selalu mastiin gambar kerjaku lebih dulu kelar daripada temanku, 3D perancangan lebih kelar atau konsep perancangan lebih keren daripada temanku.

Perfeksionisme yang Mengganggu Sampai Sekarang

Bukan hanya karena begadang perancangan saja yang bikin aku nggak bisa tidur, tapi perfeksionisme itu juga mengganggu aku, bahkan sampai sekarang.

Di atas jam 11 sampai jam 3 malam, aku sering mikir “Kira-kira cara nulis blog gue udah bagus nggak ya?”

“Visualnya nggak bagus nih!”

“Harusnya nggak pake gambar yang ini. Besok coba ulang deh!”

Semua hal yang mempertanyakan bagus atau tidaknya selalu menghantui aku menjelang tidur. Obsesi akan kesempurnaan bikin aku terganggu. Aku sampai nyediain obat tidur biar bisa tidur. Tapi tetap aja, kalau udah penyakit perfeksionis susah hilang, mau gimana lagi?

Untuk Saat Ini

Maka dari itu, untuk saat ini, aku lagi mau merangkul progres yang nggak sempurna. Kadang aku keluar cuma pake sunscreen dan pake pensil alis, yang dulunya harus perfect make upnya. Kadang aku keluar cuma pake kaos biasa dan pake kacamata.

Sekarang pun aku kalau ngonten nggak terlalu saklek banget harus pake baju tone ini dan itu. Atau narasinya harus begini.

Mungkin nggak bisa langsung, tapi aku butuh pelan-pelan buat berdamai sama ketidaksempurnaan.

Pelan-pelan berharap, semoga perfeksionisme ini tidak mengganggu lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *