Menikmati Kesendirian yang Aman
Setelah membeli smoothie rasa stroberi di gedung ini, saya ingin membaca buku. Kali ini, buku pilihan saya berjudul Educated dari Tara Westover.
Tapi sebelum duduk, saya memutuskan untuk duduk di tengah gedung. Itu bermula saat saya tak sengaja melihat pintu besar di tengah fasad belakang gedung. Seketika, jiwa perfeksionisme saya muncul: saya mencari tempat duduk dengan mencari garis tengah gedung. Caranya dengan melihat pintu besar itu, lalu saya menyesuaikan tempat duduk saya. Terlebih, garis nat keramik sampai ke ujung gedung menjadi patokan garis simetrinya. Lalu, saya pastikan saya duduk di tengah-tengahnya.
Sudah lama sekali saya tidak bermain dengan garis.
Seperti biasanya, otak saya berpikir dengan dua layer: layer pertama merasakan dan melihat masa kini, layer kedua memainkan memori masa lalu. Berhubung saya ada di gedung tua, pikiran layer kedua saya membayangkan bagaimana suasana zaman dahulu sebelum kemerdekaan, meskipun saya belum lahir di zaman itu.
Hingga saatnya, pikiran layer kedua saya malah memainkan memori di masa kecil saya, tanpa disadari.
…
Sekitar umur 9 tahun, saya duduk sendiri di aula madrasah. Waktu itu, saya datang terlalu awal. Teman-teman saya belum datang. Lalu, saya duduk di samping pilar tengah aula itu, sambil menunggu mereka.
Lalu, ada segerombolan anak laki-laki bermain troli barang dengan mengitari aula. Tiga anak duduk di troli, satu anak mendorong troli dengan satu kakinya, sambil memegang pegangan besi trolinya. Mereka bermain dari pinggir, lalu ke tengah aula.
Tak kusangka, saat troli itu mendekat ke saya, salah satu anak menarik baju saya dari belakang. Hal itu membuat saya tertarik ke depan. Tetapi saya hanya diam dan meringkuk duduk, karena saya ketakutan. Saya merasa tidak bisa apa-apa.
Belum cukup disitu, mereka balik lagi. Giliran tas saya yang jadi sasaran anak itu. Mereka datang dari depan dan menarik tas saya, hingga saya tertarik ke belakang. Padahal, tas itu merupakan hadiah dari redaksi suatu majalah, karena gambar saya terpilih untuk dipajang di majalah itu. Resleting tas saya jadi rusak. Saya menangis kencang. Dia yang menarik saya tertawa.
Tak lama kemudian, anak yang mendorong troli menghampiri saya, “Kenapa dek?” sambil mencolek saya. Saya hanya tetap menangis kencang, hingga banyak anak-anak yang mengitari kami. Mereka yang bermain troli saling menyalahkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk pulang saja sambil menangis.
…
Di masa kecil, saya sering sekali dibully, terutama oleh anak laki-laki.
Karena faktor inilah saya jarang punya teman laki-laki di masa sekolah. Ditambah, orang tua saya yang pengusaha hanya punya karyawan perempuan dulu. Jadi, saya sering bermain dan ngobrol bersama mereka setelah jam pulang kerja. Faktor ini jadi penguat preferensi pertemanan saya, yang lebih nyaman berteman dengan sesama perempuan dibanding dengan laki-laki.
Baru di umur sekarang saya mencoba untuk terbuka: berteman dengan siapapun tanpa memandang gender, termasuk pria.
Mengingat kejadian itu, entah kenapa ternyata lebih banyak pria di sini, meskipun ada juga perempuan. Ada yang ngobrol dengan temannya, berjalan melihat tenant–tenant, bermain dengan anak kecil, atau disuapi makan oleh pacarnya.
Melihat realita itu, otomatis saya berpikir apakah mereka akan membully saya karena saya duduk sendirian di tengah ruangan ini? Terlebih, saya membaca buku, di tengah masyarakat yang melihat kutu buku seperti saya ini sebagai hobi yang culun.
Sendirian, di tengah-tengah gedung, baca buku pula. Saya rasa dengan faktor-faktor itu bisa saja saya dibully lagi.
Tapi kenyataannya tidak, saya tidak diapa-apakan.
Saya berhenti baca buku sejenak. Halaman buku tetap saya buka, lalu melihat mereka semua. Ternyata mereka sibuk dengan urusan masing-masing, dengan teman, pacar, atau keluarga mereka.
Ya, saya benar-benar tidak diapa-apakan.
See? saya butuh penegasan dua kali untuk meyakinkan realita ini.
Oke, saya tutup bukunya dahulu. Lalu saya lihat ke belakang.
Oh, ya, benar, saya memang tidak diapa-apakan. Tidak ada yang menarik baju saya lagi di sini saat saya membaca buku di tengah gedung ini. Tidak ada yang menarik tas saya. Bahkan tidak ada juga yang mengambil lalu melempar buku saya.
Baru kali ini saya menyadari kesendirian yang aman, meskipun sebelumnya saya sudah sering melakukan apa-apa sendiri.
Oke, sudah tiga kali penegasan untuk meyakinkan saya. Saya kembali lanjut baca buku, sambil menikmati smoothie stroberi saya.
Saya aman sekarang. Dengan meneguk smoothie ini, lembaran yang saya bolak-balik, melihat struktur baja berbentuk arched membuat saya menikmati detik ini secara sadar. Saya memastikan semua pancaindera saya bekerja di saat itu juga. Hal ini untuk memastikan saya hidup di masa kini, dan tidak lagi hidup di masa lalu.
Menyadari realita itu, saya merasa sudah mencapai achievement kecil: tidak dibully lagi. It means, saya aman. And it means, saya aman untuk menikmati kesendirian saya. Saya aman, dan bebas.
Akhirnya, saya bersyukur bisa bertahan untuk tetap hidup di detik-detik saya memutuskan untuk berhenti.
Saya bersyukur sekali.



2 Komentar
Dwi
Tetap semangat ya Veni
Kamu gak sendirian 🙂
Veni Vriliani
terima kasih Dwi