sampul buku heavier than heaven untuk review
Books

Review Buku Heavier Than Heaven dan Perjalanan Emosional Kurt Cobain

Aku seneng banget akhirnya bisa nulis review buku Heavier Than Heaven. Mungkin ini adalah artikel terpanjang dan terniat aku di antara artikel review buku yang lain. Gimana enggak? Buku ini adalah biografi tentang frontman band Nirvana – Kurt Cobain – yang merupakan band rock favorit aku.

Tapi jujur, awal tahu Nirvana ini nggak diawali dengan rasa senang. Justru malah dari rasa benci, yang jadi ketertarikan terhadap kreativitas band ini dan Kurt Cobain.

Awal Kenal Band Nirvana

“Band macam apa ini? Nyanyinya teriak-teriak, gitarnya dibanting-banting pula. Dasar band gak jelas!”

Begitulah kalimat pertama yang aku lontarkan saat nonton video band Nirvana, sekaligus jadi kesan pertamaku terhadap band itu. Momen itu terjadi saat aku SMP, tepatnya saat jam kosong pelajaran TIK. Waktu itu, aku mengakses Youtube untuk menghilangkan bosan di lab TIK. Kebetulan, video musik berjudul Endless, Nameless dari Nirvana muncul di beranda Youtube itu, dan aku mengkliknya.

Awalnya, aku menikmati melodi petikan gitar elektrik dan beat drumnya. Tapi lama-lama temponya makin menegangkan. Lalu, Kurt Cobain, vokalis Nirvana, berteriak. Terlebih, background stage yang berubah jadi merah menambah ketegangan lagu.

Temponya tiba-tiba melambat, lalu menegang lagi. Kurt berteriak lagi. Kini ia mengamuk di atas stage dan ngebanting gitarnya.

Di depan monitor komputer sekolah, aku hanya mengernyitkan dahi selama Kurt berteriak di depan mic dan berkelakuan aneh di atas stage.What the f***? Gue nonton video gajelas apaan ini?” gumamku.

Sejak itu pula, aku benci band bergenre grunge, rock, punk, atau band apapun itu yang nyanyinya pake teriak. Kalau band rock seperti Queen, Greenday, Evanescence masih bisa aku terima, karena tidak ada teriakan seperti band itu. Terlebih, aku juga sudah familiar dengan band itu.

Mungkin juga karena dulu pas SMP aku sempat jadi K-Popers. Video Nirvana yang kulihat pertama kali berjudul Endless, Nameless pula. Jadi, mungkin aku shock karena langsung dikasih video rock yang penuh teriak itu. Sedangkan di masa itu, aku lebih menikmati girlband-boyband yang nyanyinya sambil ngedance, bukan nyanyi sambil banting gitar dan teriak.

Saking bencinya dengan Nirvana, aku sampai menyematkan si Kurt sebagai vokalis yang kakean polah, kalau kata orang Jawa. Secara harfiah, kakean polah berarti “kebanyakan tingkah”.

Waktu Berlalu dan Pandangan Berubah

Hingga puluhan tahun kemudian, tepatnya saat pandemi, lagu Nirvana muncul lagi di random playlist JOOX aku. Lagu yang muncul pertama berjudul Where Did You Sleep Last Night. Karena temponya yang slow, lagu ini sering kuputar biar nggak tegang saat menyusun skripsi. Selain itu, lagu ini juga menemani tidurku.

Nirvana saat tampil di acara di MTV Unplugged
Sumber: rollingstone.com

Setelah itu, aku coba eksplor lagu-lagu Nirvana yang lain. “Enak juga lagu-lagunya, ya” pikirku saat mengeksplor album Nevermind. Lagunya yang menggebu-gebu bikin aku semangat skripsian. Jadi, lagu-lagu Nirvana turut menemani aku selama bikin skripsi – sampai sekarang.

Kesukaan yang berawal dari kebencian memang terdengar klise, tapi justru di sanalah letak kejujuran pengalaman manusia. Banyak orang menjalani hidup dalam polaritas emosi, seperti mencintai apa yang dulu dibenci, atau sebaliknya. Karena perasaan tak pernah benar-benar statis. Waktu, pengalaman, dan perubahan perspektif sering kali mengacak-acak apa yang meneguhkan pandangan kita.

Dinamika yang penuh perubahan ini bukan hanya cerita tentang aku saja. Aku pernah berpikir, penyanyi yang aku benci ini mungkin juga punya dinamikanya tersendiri, yang membuatnya ia bermusik seperti itu. Bisa saja dia mengalami polaritas perasaan di hidupnya, sama halnya aku yang mengalami polaritas pandangan dalam hal selera musik. Maka dari itu, sisi kemanusiaan aku mulai terpantik tentang Kurt Cobain ini.

Pengalaman ini jadi titik awalku menulis review buku Heavier Than Heaven, sebuah biografi tentang Kurt Cobain yang dulu aku benci. Kini, aku mencoba memahami dunia tentangnya.

Tentang Buku Heavier Than Heaven dari Charles R. Cross

Di tahun 2022, aku lagi iseng ke Gramedia untuk menghilangkan rasa bosan. Siapa tahu ada buku yang menarik. Lalu, aku nggak sengaja lihat buku ini – Heavier Than Heaven – biografi tentang Kurt Cobain. Selain itu, buku ini adalah buku pilihan aku saat ikut tantangan baca buku 30 hari di bulan Maret lalu. Jadi, aku baru kelar baca buku ini tiga tahun kemudian di tahun 2025 ini.

Seperti yang sudah kupaparkan di awal artikel, Nirvana adalah band favorit aku. Selain karena suka bandnya, aku juga penasaran tentang perjalanan kreatifnya yang berhasil membentuk band se-legendaris itu. Maka dari itu, aku tertarik buat membacanya. Literatur ini jadi bahan utamaku untuk membuat review buku Heavier Than Heaven yang sedang kamu baca ini.

Buku Heavier Than Heaven yang aku beli ini ditulis oleh Charles R. Cross, jurnalis musik Amerika yang berbasis di Seattle – sebuah kota di Amerika Serikat yang terkenal sebagai tempat kelahiran musik grunge. Grunge merupakan subgenre rock alternatif yang muncul pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Dengan demikian, dari Seattle dan genre grunge inilah band Nirvana lahir. Dan Cross mendalami perjalanan hidup Kurt yang tidak lepas dari karier awal bermusiknya di Seattle.

Charles R. Cross, penulis buku heavier than heaven yang aku review
Charles R. Cross, jurnalis musik sekaligus penulis buku Heavier Than Heaven
Sumber: hypeabis.id

Cross menulis buku biografi ini berdasarkan lebih dari 400 wawancara dengan orang-orang terdekat Kurt Cobain. Ia mewawancarai keluarga, teman masa kecil, rekan band, dan rekan musisi Kurt. Selain itu, butuh waktu selama empat tahun untuk Cross dalam menyusun hasil wawancaranya menjadi buku. Terlebih, buku ini juga dapat akses eksklusif ke jurnal pribadi Kurt, termasuk lirik dan foto yang belum pernah Kurt publikasikan.

Lalu, Cross menyusun cerita hidup Kurt dari masa kecilnya yang suram di Aberdeen, Washington, hingga ke puncak ketenarannya bersama Nirvana. Nggak cuma menyoroti perjuangan musik, buku ini juga membongkar sisi gelap kehidupan Kurt. Mulai dari kecanduan heroin, konflik internal, hingga pemikirannya yang penuh kemarahan dan keputusasaan.

Perilisan Buku Heavier Than Heaven

Selain itu, buku ini termasuk salah satu biografi paling mendalam dan kontroversial tentang Kurt Cobain. Bertepatan dengan 10 tahun rilisnya album Nevermind, buku ini pertama kali terbit di Amerika pada tahun 2001.

Di Indonesia sendiri, buku ini terbit tahun 2005 lewat edisi Alinea, Jogjakarta. Tapi, buku yang aku beli ini cetakan tahun 2018 edisi Gramedia. Terlebih, ada pengantar edisi tahun 2014 dari sang penulis sebagai peringatan 20 tahun kematian Kurt Cobain. Dalam pengantar itu, Cross menulis refleksi personalnya dalam menulis buku. Selain itu, ia juga menulis reaksi orang terdekat Kurt. Terlebih lagi, ia juga menulis perubahan nasib para tokoh dalam buku itu setelah bertahun-tahun buku itu terbit.

kata pengantar buku heavier than heaven untuk review
Kata Pengantar Edisi 2014

Sinopsis Buku Heavier Than Heaven

Masa Muda Kurt Cobain

Masa kecil dan remaja Kurt bisa dibilang tidak beruntung. Selain hidup di garis kemiskinan, ia juga harus menyaksikan perceraian orangtuanya. Terlebih, ia juga sering dapat penolakan, baik dari orang tua tiri, orang tua kandung, bahkan teman sekolahnya. Dampaknya, ia mengalami rasa terasing dan mencari pelarian lewat obat-obatan terlarang. Ia jadi remaja yang penuh frustrasi. Tapi di lain sisi, Kurt tertarik pada seni. Sejak itu, ia mulai mendalami seni, dari menggambar hingga bermusik.

kurt cobain heavier than heaven
Masa kecil Kurt Cobain
Sumber: Pinterest

Akhirnya, Kurt drop out dari sekolah karena merasa tidak cocok dengan sistem sekolah. Menurutnya, sekolah tidak mendukung kreativitasnya dan ia merasa terasingkan. Sejak itu, hidupnya semakin sulit. Ia mencari peruntungan dengan bekerja serabutan. Meskipun keadaannya semakin sulit, minatnya pada seni tidak hilang. Ia bekerja sambil membuat lagu dan sesekali menggambar. Selain itu, ia juga sering hadir ke konser band lokal di Seattle.

Ketertarikan Kurt dengan Dunia Musik hingga Membentuk Band

Band seperti The Melvins turut jadi inspirasi besar Kurt dalam bermusik. Selain itu, ia banyak kenal dengan orang yang tertarik di bidang musik, terutama genre alternative rock seperti grunge dan punk rock. Di masa ini, ia bertemu Krist Novoselic yang tertarik dengan mixtape buatan Kurt. Akhirnya, ia tertarik untuk bergabung dengan Kurt. Di balik rasa pesimisnya terhadap kehidupan, ia tetap optimis dalam bermusik dan berencana untuk membentuk band bersama Krist.

Hingga akhirnya, pembentukan Nirvana dimulai dari mengisi live kecil di bar dan gig lokal. Perlahan, penampilan mereka mulai menarik perhatian. Pada awalnya, formasi band sering berubah-ubah, terutama pada posisi drummer. Hingga akhirnya, formasi ditetapkan dengan tambahan Chad Channing sebagai drummer. Mereka terus tampil di berbagai kesempatan, membangun basis penggemar lokal di sekitar Seattle dan kawasan Pacific Northwest. Semangat dalam penampilan live dan lirik lagu ciptaan Kurt yang jujur nan emosional meraih antusiasme di skena musik underground Seattle.

Album-Album Nirvana

Perjuangan awal Nirvana jadi fondasi bagi musik grunge yang kemudian mendunia. Album debut mereka, Bleach (1989), rilis melalui label independen Sub Pop. Album itu merefleksikan akar musik underground mereka dengan suara yang mentah dan lirik yang jujur. Tidak hanya itu, album itu membangun reputasi Nirvana di skena musik Seattle dan menarik perhatian penggemar musik alternatif.

Namun, kesuksesan besar yang tidak terduga datang dengan album kedua, Nevermind (1991), yang menampilkan lagu hit iconic berjudul Smells Like Teen Spirit. Album ini melesat ke puncak tangga lagu, membawa musik grunge ke arus utama dan mengubah lanskap musik pop secara keseluruhan. Dari masa ini juga, ia bertemu dengan Courtney Love, vokalis band Hole. Akhirnya, ia menjalin hubungan asmara dengannya hingga ke jenjang pernikahan.

album Nirvana di buku heavier than heaven
Album studio kedua dari Nirvana, Nevermind
Sumber: Apple Music

Kehidupan Pernikahan Kurt Cobain dengan Courtney Love

Dari pernikahan Courtney dan Kurt inilah Frances Bean Cobain lahir. Tak lama setelah Frances lahir, muncul kontroversi dari artikel Vanity Fair yang menyebut Courtney menggunakan heroin saat hamil. Hal ini memicu penyelidikan dan ancaman kehilangan hak asuh atas Frances, yang sangat memengaruhi kondisi mental Kurt.

Tetapi, kelahiran Frances adalah momen paling membahagiakan dalam hidup Kurt. Ia bahkan menulis dalam liner notes album In Utero bahwa ia mencintai Courtney dan Frances lebih dari apapun. Namun, menjadi ayah juga memperdalam konflik batin Kurt-antara keinginan untuk menjadi ayah yang baik, perjuangannya melawan kecanduan, dan tekanan ketenaran.

Tekanan yang Kurt Cobain Dapat hingga Akhir Hidupnya

Dari momen kesuksesan itu, Kurt bergulat dengan tekanan ketenaran, industri musik, dan media setelah kesuksesan Nevermind. Album ketiga dan terakhir Nirvana, In Utero (1993), dirilis di tengah sorotan dan ekspektasi yang tinggi. Album ini menunjukkan sisi Nirvana yang lebih gelap dan eksperimental, dengan lirik yang lebih personal dan musik yang lebih agresif. Meskipun tidak sesukses Nevermind, In Utero tetap menjadi karya penting yang menunjukkan integritas artistik Nirvana. Selain itu, album itu menjadi penutup tragis bagi karir rekaman mereka sebelum kematian Kurt Cobain pada tahun 1994.

Akibatnya, Kurt tidak tahan lagi setelah mengalami berbagai tekanan. Ia terus menghadapi pertentangan idealisme dalam bermusik, antara keinginan Kurt untuk tetap autentik secara artistik dengan tuntutan komersial. Selain itu, ia juga berjuang melawan depresi dan sakit perutnya yang menahun tak kunjung sembuh. Hal ini menyebabkan ia merasa bersalah atas kesuksesan mainstream Nirvana dan kekacauan keluarganya.

Selain itu, perjuangannya melawan kecanduan heroin pun tak kunjung berhasil. Kurt mengalami pergolakan batin yang sangat mengguncang. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk bunuh diri yang mengakhiri perjalanan karier band Nirvana.

Artikel Terkait Lainnya

Ikut Tantangan Baca Buku Selama 30 Hari dari Grow Bareng, Ini Hasilnya

Review Buku Rebel Notes: Catatan Seniman Pemberontak

Gaya Penulisan dan Narasi dalam Heavier Than Heaven

Cross menyusun hasil wawancaranya ini dengan gaya novel. Jadi, buku ini bukan laporan jurnalistik yang kaku, yang hanya menampilkan data mentah. Storytelling yang Cross gunakan bikin kamu nggak sadar kalau buku ini sebenarnya hasil wawancaranya.

Salah satu hal menonjol dalam review buku Heavier Than Heaven adalah gaya penulisan Cross yang sinematik dan intens. Narasinya terasa seperti novel tragedi, padahal ini adalah kisah nyata. Ia menggambarkan kejadian demi kejadian secara deskriptif yang membuat imajinasi pembaca tergambar jelas. Pembaca bakal merasa menyaksikan hidup Kurt Cobain secara dekat, dari kelahirannya bahkan sampai kematiannya.

Namun, pendekatan naratif ini juga banyak menuai kritik. Beberapa pembaca menilai bahwa Cross terlalu subjektif, karena menambahkan opini pribadi Cross. Apalagi saat menggambarkan detik-detik kematian Cobain yang belum pasti secara faktual. Sehingga kesannya buku ini banyak narasi yang dilebih-lebihkan.

Meskipun begitu, pendekatan ini membuat buku ini terasa hidup dan dramatis. Kamu akan sangat menikmati alur ceritanya. Aku pribadi pun sangat menikmati alur kehidupannya. Rasanya seperti melihat perjalanan hidup Kurt dari dekat.

Kelebihan Buku Heavier Than Heaven

1. Penelitian yang Mendalam

Cross menghabiskan empat tahun untuk riset buku ini. Dari 400 orang yang Cross wawancarai, ia menyusun ulang kisah hidup Kurt Cobain dari potongan-potongan informasinya. Wawancara sebanyak dan selama itu menunjukkan bahwa ia melakukan dedikasi terbaiknya dalam menggali sisi terdalam sang ikon grunge. Dedikasi Cross terhadap riset ini membuat buku Heavier Than Heaven bukan hanya sekadar biografi, tetapi lebih menyerupai studi antropologis personal – lebih tepatnya tentang manusia sekompleks Kurt Cobain

2. Akses Eksklusif dari Orang Terdekat

Selain penelitian yang mendalam, salah satu daya tarik istimewa Heavier Than Heaven adalah akses eksklusif yang Charles R. Cross dapat terhadap arsip pribadi Kurt Cobain. Courtney Love memberikan izin langsung kepada Cross untuk membaca dan mengutip jurnal harian, puisi, surat pribadi, dan lirik lagu yang belum sempat Kurt rilis. Jadi, hal ini bukan sekadar bonus informasi, tapi fondasi utama yang memperkaya kedalaman buku ini. Sehingga buku ini menyajikan potret yang sangat intim tentang dunia batin Kurt.

foto-foto kurt cobain yang tidak dipublikasikan dalam review buku heavier than heaven
Dokumentasi Pribadi Milik Kurt Cobain yang Tidak Dipublikasikan

3. Menggugah Emosi

Salah satu kelebihan paling mencolok dari Heavier Than Heaven adalah kemampuannya menggugah emosi pembaca secara mendalam. Charles R. Cross menulis dengan empati yang tajam. Terlebih, pengemasan storytelling Cross yang sinematik dan emosional membuat fragmen kisah Cobain terasa begitu hidup dan menyentuh. Sehingga kita tidak hanya membaca tentang penderitaan Kurt, tapi turut merasakan penderitaannya. Jadi, pembaca bisa ikut merasakan kepedihan, kemarahan, dan kesepian Cobain lewat tulisan.

4. Konteks Budaya

Heavier Than Heaven tidak hanya menceritakan kehidupan pribadi Kurt Cobain, tapi juga menceritakan lanskap budaya yang membentuk gaya bermusiknya. Ia menyisipkan konteks sejarah dan sosial yang kuat tentang skena musik grunge di Seattle pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Ia juga memetakan bagaimana Seattle menjadi pusat revolusi budaya yang mengubah wajah musik rock dunia. Selain itu, Cross mengaitkan popularitas grunge dengan kegelisahan generasi muda Amerika terhadap glam rock dan konsumerisme. Sehingga buku ini menggambarkan bagaimana skena grunge di Seattle saat itu mempengaruhi gaya bermusik Kurt Cobain. Buku ini tidak sekadar menceritakan tentang seorang musisi, tapi juga tentang sebuah era dan budaya.

Kekurangan Buku Heavier Than Heaven

1. Kurangnya Netralitas

Salah satu kelemahan Heavier Than Heaven adalah kurangnya netralitas dalam penyajian narasinya. Cross kadang terkesan terlalu membela atau memihak. Karena dapat akses eksklusif dari Courtney Love, ia dianggap terlalu memihak ke Courtney saat menggambarkan sosoknya di momen terakhir Kurt Cobain. Pendekatannya yang emosional dan cenderung membela membuat narasi terasa berat sebelah. Sehingga buku ini membuat pembaca kurang dapat sudut pandang objektif.

2. Fiksi dalam nonfiksi

Kecenderungan Cross menulis dengan gaya naratif yang terlalu dramatis membuat beberapa bagian terasa lebih seperti novel fiksi daripada biografi. Ia kerap menyisipkan detail-detail emosional dan deskriptif yang belum bisa diverifikasi. Terutama saat menggambarkan perasaan atau pikiran Kurt dalam situasi-situasi tertentu, seolah-olah ia tahu persis apa yang dirasakan tokohnya. Meskipun gaya ini membuat cerita terasa hidup dan menggugah, hal ini bisa menimbulkan keraguan dalam keakuratan cerita. Selain itu, buku ini kadang tampak lebih sebagai interpretasi pribadi daripada rekaman sejarah yang objektif. Sehingga bagi sebagian pembaca buku ini, batas antara fakta dan imajinasi menjadi kabur.

3. Tidak semua narasumber diwawancarai

Meskipun Cross mewawancarai lebih dari 400 orang, beberapa teman dekat Kurt menolak terlibat. Penolakan ini datang dari tokoh-tokoh penting dalam fase penting kehidupan Kurt. Akibatnya, sudut pandang mereka tidak hadir dalam narasi buku ini. Celah ini membuat kisah yang disampaikan terasa kurang lengkap dan tidak sepenuhnya seimbang. Tanpa suara mereka, buku ini kehilangan kemungkinan nuansa yang lebih beragam. Bahkan, beberapa perspektif itu bisa saja membantah interpretasi subjektif Cross. Hal ini membuat potret Kurt dalam buku terasa terlalu satu sisi. Narasi hanya dibentuk dari orang-orang yang bersedia bicara. Oleh karena itu, meskipun risetnya mendalam, buku ini tetap tidak sepenuhnya utuh.

Kesimpulan Review Buku Heavier Than Heaven

Menurutku, Heavier Than Heaven adalah buku biografi yang ‘mentah’ tentang Kurt Cobain: penuh luka dan kejujuran. Charles R. Cross berhasil membangun narasi yang kuat, meski subjektivitas penulis belum lepas seutuhnya dari narasi buku ini. Dengan risetnya yang mendalam, Cross benar-benar mendedikasikan usahanya untuk menggali kehidupan dan perjalanan kreatif Kurt sedetail mungkin. Hal ini menjadikan buku ini sebagai biografi paling komplit tentang Kurt Cobain.

Pengemasan cerita dan gaya storytellingnya berhasil membuat aku larut dalam sinema cerita kehidupan sang bintang rock. Menurutku, ini adalah cara yang jenius, mengingat karyanya ini sebenarnya hasil wawancaranya. Rasanya seperti melihat sosok Kurt dalam jarak dekat. Dan jadi orang terdekat Kurt sampai turut merasakan rollercoaster dinamika kehidupan dan emosinya.

Di buku ini, ia tidak hanya digambarkan sebagai bintang rock, tetapi juga sebagai manusia yang penuh luka batin. Maka dari itu, aku mengapresiasi sudut pandang sentimentil yang Cross paparkan di buku ini. Jarang sekali orang menyadari bahwa seorang musisi pun juga manusia, yang punya sisi gelap dan sisi terangnya tersendiri. Maka dari itu, usaha Cross dalam menyeimbangkan dualitas sisi dan kompleksitas Kurt patut diapresiasi. Kesimpulanku dalam review buku Heavier Than Heaven ini adalah bahwa buku ini menyuguhkan narasi yang tidak hanya mendalam, tetapi juga emosional dan jujur.

Maka dari itu, kalau kamu ingin memahami Kurt Cobain lebih dalam, buku ini layak untuk kamu baca. Aku merekomendasikan buku ini dari segi pengemasan cerita, detail dan kedalaman cerita, dan penghargaan Cross dalam menceritakan sisi sentimentil seorang Kurt Cobain.

band nirvana

“I’d rather be hated for who I am, than loved for who I am not” 

Kurt Cobain

Sumber:

Nugroho, M. I., (2017) Kurt Cobain’s Psychological Development Portrayed in Charles R. Cross’ Heavier Than Heaven. Universitas Brawijaya

https://www.goodreads.com/cs/book/show/42208076-heavier-than-heaven

https://www.gramedia.com/blog/review-buku-biografi-kurt-cobain-heavier-than-heaven-charless-r-cross/?srsltid=AfmBOoqgm04kMglksqNNHthNRbjBKWs4JydirQ2-ncepmwh-AMnFz-Ew

https://www.kompasiana.com/irfanfandi5010/616e91d406310e4dd049fa13/review-buku-biografi-kurt-cobain-havier-than-heaven-kisah-hidup-yang-tidak-selalu-mudah?page=2&page_images=1

https://www.nfirmansyah.com/2022/05/heavier-than-heaven.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Heavier_Than_Heaven

https://www.historylink.org/File/9931

14 Komentar

  • Andiyani Achmad

    Baca review ini rasanya ikut naik turun roller coaster emosinya Kurt Cobain. Mba Veni berhasil banget menyampaikan isi bukunya dengan jujur dan menyentuh. Terima kasih ya, jadi makin pengen baca bukunya dan ngeliat sisi lain dari seorang ikon musik grunge dunia.

  • Tanti Amelia

    Aku baru selesai membaca review-mu tentang buku Heavier Than Heaven karya Charles R. Cross—dan wow, bagaimana kamu mengemas perjalanan emosional Kurt Cobain menjadi bacaan reflektif sangat mengena. Sebagai penulis dan ilustrator lepas, aku merasa diajak menyelami dunia gelap musik dan psikologi seorang ikon generasi dengan cara yang kaya makna.

    aku membayangkan visualisasi yang menyentuh batin: Cobain di tengah gemerlap sorotan panggung, namun dikelilingi bayangan keluarga yang retak dan jalur overdosis yang menanti. Dia sosok yang penuh dilema—antara kreativitas dan kehancuran, alienasi dan adulation—dipotret dalam satu narasi yang begitu menyentuh.

    Tulisanmu detail banget mbak, membuat pembaca sadar bahwa Heavier Than Heaven bukan hanya buku biografi rock, tapi juga eksplorasi psikologi manusia yang berambisi, terluka, dan terkadang memilih cara terakhir keluar dari pain.

    Kamu menuliskan refleksi ini dengan cermat dan empatik, tanpa kehilangan keberanian untuk mengkritik narasi yang terlalu glamor dibandingkan kenyataan yang menyakitkan.

    Terima kasih atas tulisan yang mendalam dan membekas ini, Mbak Veni. Semoga semakin banyak pembaca yang membaca lebih dari sekadar musik dan melihat sisi kemanusiaan Cobain dengan penuh empati.

    • Veni Vriliani

      Terima kasih banyak yaa kak atas apresiasinya. Iya, aku emang detail banget kak nulisnya. Mungkin karena diawali dengan rasa benci, jadi aku mencoba menggunakan perspektif lain. Dan nggak nyangka bakal larut dalam ceritanya. Kalo udah baca bukunya langsung, bakal kerasa lebih detail feel novel dengan gaya sinematiknya.

  • Abah Raka

    Jadi inget masa-masa SMA, dan album nevermind jadi kenangan karena selalu saya putar pake “Tape Recorder” berulang-ulang, kadang kasetnya kusut. Dan waktu kuliah, jadi musik yang bikin semangat. Kurt Cobain jadi salah satu tokoh yang mengantarkan anak 80-90an untuk bertumbuh dewasa, khususnya tahun 90-2000an.

    • Veni Vriliani

      wah iya tuh dulu aku juga denger lagu dari tape recorder, tapi dengerin lagu Betharia Sonata, bikin nostalgia tahun 1980-an. Padahal saya kelahiran 1999. Kalo pitanya kendor, lubang kaset pitanya kudu diputerin dulu pake pulpen biar ga kendor wkwkwk lucu deh kalo inget

  • Yonal Regen

    Ini tulisan Kak Veni tentang ulasan buku memang lumayan cukup panjang, ya. Tapi nulisnya ngalir, jadi ga bosen bacanya sampai selesai, apalagi yang dibahas adalah buku tentang Kurt Cobain, Heavier than Heaven.

    Saya bukan termasuk penikmat lagu-lagu Nirvana, tetapi karena memang sang vokalis sangat terkenal pada masanya (bahkan sampai sekarang), jadi lumayan mengikuti berita-beritanya sampai saat kasus bunuh dirinya.
    Tak mudah pastinya hidup dalam kecanduan obat-obat terlarang dan ingin melepasnya secara bertahap, tetapi support system di sekeliling tidak baik-baik saja, yang ada malah bertambah pergolakan batin

    • Veni Vriliani

      iyaa, makanya bikin disclaimer dulu di awal, karena bakalan panjang saking antusiasnya. Maka dari itu, berhubung banyak yang tahu Nirvana, jadi aku menyampaikan sisi sentimentilnya seorang vokalis tersebut, nggak cuma dari lagunya yang enak didenger aja

  • Leila

    Dengan riset yang sampai bertahun-tahun, jelas buku ini digarap dengan sangat serius, ya. Mengenai pendekatan yang jadi condong ke sudut pandang Courtney Love, rasanya juga wajar karena sumber yang bisa digali dengan cukup dalam ya dari situ. Barangkali kalau ada yang merasa keberatan, bisa juga tuh bikin biografi versi lain buat mengimbangi, supaya makin kaya juga pandangan para pembaca ataupun penggemar.

    • Veni Vriliani

      iya ini bener banget, si penulis memang terkesan membela Courtney karena yaa mau ga mau memang Courtney yang tahu luar dalamnya Kurt. Sedangkan Kurt sendiri nggak terlalu dekat sama ibunya karena sempat benci sama ibunya sendiri

  • rezkypratama

    menarik kalau dilihat dari reviewnya mbak

    saya kalau detil band ini tidak begitu paham
    cuman tau sang vokalis kalau g salah bundir itu ya

    lagu2nya juga banyak yang hits juga

    di dalam suatu masterpiece ada buanyak cerita yang ada di dalamnya
    banyak tekanan yang bisa bikin sang vokalis sampai memilih untuk melakukan itu

    tapi hasil karyanya sampai sekarang masih tetap abadi dan tidak membosankan

  • Lendyagassi

    Aku menikmati sekali ulasan Buku Heavier Than Heaven.
    Kalau dari sudut pandang pengulas ada sisi pros and conts, aku justru berpikir bahwa buku biografi yang relevan adalah opini dan “hidden treasure” yang slama ini belum pernah ditunjukkan ke khalayak.

    Gak perlu terlalu banyak opini lain yang membingungkan pembaca.
    Cukup dari circle terdekat dari SANG BINTANG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *