Toko Merah building which now changed functionally become Rode Winkel cafe
Architecture,  Favorite Spots

Toko Merah: Sejarah Gedung VOC dan Keunikan Arsitekturnya di Kota Tua

Bangunan-bangunan bergaya Eropa berdiri kokoh di sepanjang Kota Tua. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah sebuah gedung bekas Belanda berwarna merah mencolok. Kini, gedung bekas peninggalan Belanda ini telah bertransformasi menjadi kafe.

Bangunan tua berwarna merah ini disebut Toko Merah. Namanya jelas terpampang di depan gedung itu. Selain itu, bangunan ini menyimpan sejarah yang panjang sebelum Indonesia merdeka hingga kini.

Gustaaf Willem Baron van Imhoff
Bangunan Toko Merah, yang sekarang jadi kafe Rode Winkel Sumber: pribadi

Pada masa jayanya, Toko Merah terkenal sebagai salah satu bangunan mewah yang menjadi pusat perdagangan di Batavia. Selama bertahun-tahun, Toko Merah mengalami berbagai perubahan fungsi dan kepemilikan, mulai dari toko, kantor, hingga akhirnya menjadi kafe di saat ini.

Informasi Tentang Toko Merah

Nama BangunanToko Merah
AlamatJl. Kali Besar no. 11, Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat
Luas Lahan±4.360 m2
Luas Bangunan±2.400 m2
Tahun dibangun1730
Gaya ArsitekturKolonial Belanda

Sejarah Gedung Toko Merah

Tahun 1730 – 1743

Toko Merah dibangun sebagai rumah dinas Gubernur Jenderal Hindia Belanda bernama Gustaaf Willem, baron von Imhoff pada tahun 1730. Pada masa itu, banyak jabatan yang dipercayakan kepadanya, seperti sebagai Sekretaris II Hooge Regering, opperkoopman (kepala saudagar), Waterfiscaal (pajak perairan), penasihat luar biasa pemerintah Hindia Belanda, dan Gubernur Ceylon (Srilanka).

Gustaaf Willem Baron von Imhoff, gubernur belanda pemilik gedung Toko Merah
Gustaaf Willem, baron von Imhoff sumber: Wikipedia

Pada tahun 1740, saat ia menjabat sebagai Gubernur Ceylon, terjadilah pemberontakan etnis Tionghoa yang memakan banyak korban, beriringan saat Adriaan Valckenier menjabat sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda. Valckenier juga yang mencetus pembantaian etnis Tionghoa, sehingga terjadinya peristiwa Geger Pecinan. Dari peristiwa ini, Van Imhoff dipanggil ke Hindia Belanda untuk dimintai pendapat.

Karena Van Imhoff menentang tindakan kejam itu, Valckenier mengirimnya ke Belanda untuk diadili oleh Dewan XVII, badan tertinggi VOC di Belanda. Namun para direktur perusahaan di Belanda justru membelanya dan ia berhasil membela diri. Dari peristiwa ini, ia akhirnya ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal baru pada tahun 1743 dan kembali ke Hindia Belanda.

Tahun 1743-1755

Di masa jabatan Van Imhoff, ia mengubah rumahnya menjadi asrama kampus Academie de Marine, akademi maritim yang ia cetuskan untuk menyokong perdagangan VOC yang mulai menurun. Pada akhirnya, akademi tersebut dibubarkan pada 1755 oleh Gubernur Jenderal selanjutnya, Jacob Mossel.

Tahun 1755-1761

Sepeninggalnya Van Imhoff, gedung ini dialihfungsikan kembali menjadi rumah dinas Gubernur Jenderal VOC, seperti Jacob Mossel, Petrus Albertus van der Parra, dll.

Tahun 1786 – 1808

Bangunan ini dialihfungsikan menjadi heerenlogement, yaitu hotel untuk pejabat VOC dan tamu. Tercatat tokoh Kapten Inggris, William Bligh pernah menginap di hotel ini pada tahun 1789. Ia terkenal akan peristiwa Mutiny on the Bounty, kejadian pemberontakan awak kapal terhadapnya di kapal HMS Bounty.

Tahun 1809 – 1813

Setelah menjadi hotel, bangunan ini kembali dijadikan sebagat tempat tinggal oleh Anthony Nacare pada tahun 1809.

Tahun 1813 – 1851

Setelah jadi tempat tinggal pribadi, bangunan ini menjadi kantor administrasi (schriff kantooren), antara lain kantor firma John Corvill, Meijer & Co., dan Moorman di periode tahun tersebut.

Tahun 1851 – 1920

Pada tahun 1851, Oey Liauw Kong mengambil alih bangunan ini dan menjadikannya toko, hingga terkenal dengan sebutan Toko Merah sampai sekarang.

Untuk menambah ciri khas arsitektur Tionghoa, ia mengecat eksterior bangunan dengan warna merah tanpa diplester. Interior bangunan juga sebagian besar berwarna merah, dengan dekorasi ukiran yang berwarna serupa. Ia menambahkan sedikit cat emas yang memberikan nuansa Tionghoa. Fasadnya yang berwarna merah menjadikannya terkenal sebagai Toko Merah.

Tahun 1851-1895

Setelah kepemilikian Oey Liauw Kong, bangunan ini berpindah kepemilikan ke Oey Kim Tjiang dan Oey Hok Tjiang hingga tahun 1895. Setelah itu, bangunan ini dimiliki oleh Kultur Hong Hiu Kongsi.

Tahun 1900-1925

Bangunan ini dijadikan bangunan Kantor Borneo Compagnie. Lalu pada tahun 1901, bagian ruang-ruang samping rumah sebelah utara diambil untuk membentuk compagnies kammer di Museum Pusat. Hingga tahun 1917, bangunan ini dijadikan kantor firma Behn Meiwe & Co.

Sampai pada tahun 1920, bangunan ini dibeli dan dipugar oleh N.V. Bouwmaatschapij. Lalu, di tahun 1925, bangunan ini akhirnya disewa oleh Bank Voor Indie.

Tahun 1925-1942

Bangunan ini ditempati oleh sejumlah biro dan kantor dagang, seperti Algemene Landbouws Syndicaat, De Semarangse Zee en brandassuransi Mij, W.M. Muller & Co., dan NV. Jacobson van den Berg.

Tahun 1942-1945

Di tahun 1942, Jepang mulai menduduki Indonesia. Maka dari itu, gedung ini menjadi gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang.

Tahun 1945-1946

Setelah Jepang menyerah, bangunan ini digunakan sebagai markas sementara tentara gabungan Inggris–India di bawah mandat Sekutu. Inggris menjaga ketertiban dan melucuti sisa pasukan Jepang, sambil membuka jalan agar Belanda berkuasa lagi melalui NICA.

Gaya Arsitektur dan Desain Bangunan Toko Merah

Toko Merah adalah bangunan kolonial Belanda dengan gaya arsitektur Indische Empire Style yang memadukan akulturasi budaya Belanda, Tionghoa, dan Nusantara. Secara struktural, dinding yang tebal, plafon yang tinggi, dan atap yang curam menggambarkan ciri khas arsitektur Belanda. Terlebih, bukaan besar seperti pintu dan jendela (bouvenlicht) semakin menguatkan ciri khas arsitektur Belanda.

Selain itu, unsur Tionghoa pada bangunan ini diterapkan pada fasad bangunan yang berwarna merah. Tidak hanya itu, interior dalam Toko Merah juga dicat warna merah, sehingga menguatkan unsur

Dari eksterior, fasadnya megah dengan jendela besar dan tinggi mencerminkan kuatnya gaya arsitektur Belanda. Terlebih, atapnya yang curam dan detail pada ukiran kayu, pintu, dan jendela menambah sentuhan elegan. Sementara itu, fasad merahnya mewakili sentuhan arsitektur Tionghoa yang khas. Karakteristiknya memiliki dua sampai tiga lantai, berdampingan dengan bangunan lain, tanpa halaman depan atau samping, ruang yang luas, dan langit-langit yang tinggi. Bangunan ini membujur dari utara ke selatan, dengan tingkat dua lantai di bangunan depan, dan tingkat tiga di bangunan belakang.

Sementara itu, pada bagian tengahnya yang merupakan penghubung bangunan utara dan selatan, melintang dari timur ke barat.

Gaya Arsitektur Toko Merah

Gaya arsitektur Toko Merah memadukan gaya Barok Eropa abad ke-18, Tionghoa, dan Nusantara.

Toko Merah sebenarnya adalah dua bangunan di bawah satu atap yang terdiri dari dua bagian: bangunan utara dan bangunan selatan. Kesan kembar sudah terlihat dari depan bangunan dengan dua pintu masuk. Terbukti juga ada dinding parapet untuk memisahkan bangunan jika terjadi kebakaran agar tidak merambat ke bangunan sebelah. Bentuk bangunannya simetris, mencerminkan kedisiplinan dan kemegahan arsitektur kolonial.

Tampak depan gedung Toko Merah yang jadi kafe Rode Winkel
Toko Merah dari tampak depan
Sumber: dokumentasi pribadi

Lantai marmernya yang dari Italia masih asli, begitu pun bingkai pintu, jendela, dan kayu langit-langitnya. Ornamen bercat emas di interiornya memberi kesan mewah seolah mencerminkan masa kejayaan kolonial Belanda di Hindia Belanda. Selain itu, Belanda juga mengimpor bahan dinding bangunannya dari batu bata merah.

Interior pada gedung Toko Merah
interior lantai dasar pada pintu masuk Toko Merah

Spot Favorit yang Memberikan Pengalaman Unik

Sebagai salah satu destinasi populer, kafe Rode Winkel di Kota Tua ini menawarkan pengalaman unik. Kamu bisa menikmati kopi sambil menikmati arsitektur bangunan yang telah menjadi ikon Kota Tua Jakarta

Rode Winkel bukan hanya tempat untuk bersantai, tetapi juga perjalanan sejarah di tengah hiruk-pikuk Kota Tua. Gaya arsitekturnya menjadi destinasi yang wajib dikunjungi. Baik untuk pecinta sejarah, maupun mereka yang sekadar ingin menikmati secangkir kopi di tempat ikonik. Kafe Rode Winkel, yang berada di dalam gedung Toko Merah, adalah contoh nyata bagaimana warisan sejarah bisa terus hidup dan dinikmati di era modern.

Referensi

Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Gustaaf Willem baron van Imhoff. Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Gustaaf-Willem-baron-van-Imhoff

Sari, Y., & Purwantiasning, A. W. (2018). ANALISIS PEMANFAATAN KEMBALI BANGUNAN CAGAR BUDAYA TOKO MERAH KOTA TUA JAKARTA. Jurnal Architecture Innovation, 2(2), 67-76. http://journal.podomorouniversity.ac.id/index.php/JAI/article/view/84/62

Layyin Aqila. (2023, 21 November). Kisah Toko Merah di Kota Tua Jakarta yang Usianya Hampir Tiga Abad. Tempo. https://www.tempo.co/hiburan/kisah-toko-merah-di-kota-tua-jakarta-yang-usianya-hampir-tiga-abad–118258

Nurul Diva Kautsar. (2024. 30 Agustus). Menilik Jejak Academie de Marine yang Kini Jadi Toko Merah Jakarta, Dulu Jadi Akademi Paling Disiplin. Merdeka.com. https://www.merdeka.com/jabar/menilik-jejak-academie-de-marine-yang-kini-jadi-toko-merah-jakarta-dulu-jadi-akademi-paling-disiplin-189041-mvk.html?page=2

Sari Widiati. (2024. 8 Januari). Rode Winkel: The Transformation of Toko Merah. NOW! Jakarta. https://www.nowjakarta.co.id/rode-winkel-the-transformation-of-toko-merah/

Suratminto, L. (2004). Pembantaian Etnis Cina di Batavia 1740: Dampak Konflik Golongan “Prinsgezinden” dan “Staatsgezinden” di Belanda? Wacana, 6(1), 1-26. https://www.researchgate.net/publication/279279442_Pembantaian_Etnis_Cina_di_Batavia_1740_Dampak_Konflik_Golongan_Prinsgezinden_dan_Staatsgezinden_di_Belanda/

Syifa Ayunni Qotrunnada. (2021, 6 November). Gustaf Willem Baron van Imhoff, Orang Jerman yang Berantas Korupsi di VOC. Minews ID. https://minews.id/kisah/gustaf-willem-baron-van-imhoff-orang-jerman-yang-berantas-korupsi-di-voc

https://www.bi.go.id/id/bi-institute/publikasi/Documents/Pariwisata-dan-Narasi-Kota-Tua.pdf

https://www.instagram.com/rodewinkel.id

https://www.britannica.com/biography/William-Bligh

https://budaya-indonesia.org/Toko-Merah

Wild, Colin, dan Peter Carey. Gelora Api Revolusi: Sebuah Antologi Sejarah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2025.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *