Gen Z Masih Blogging Kok. Cuma Beda Platform dan Istilah Aja
Jaman aku awal blogging di tahun 2013, kelihatannya blog website itu masih banyak peminatnya. Waktu itu aku sampe sok asik nimbrung di forum diskusi blog orang, padahal waktu itu aku masih bocil SMP. Diskusi di beranda Google Plus juga rame terus.
Tapi sekarang, banyak yang ngeluh traffic web turun karena penyampaian informasi sudah dalam format video pendek dan postingan visual di media sosial. Hal ini menimbulkan polemik bagi kalangan blogger lama sebagai biang kerok turunnya traffic blog. Bahkan nggak sedikit dari mereka yang nyalahin Gen Z sebagai generasi malas baca dan lebih milih format instan.
Well, apakah benar traffic blog turun karena Gen Z malas baca? Apakah ada penyebab lain?
Di sini aku bakal bahas dari observasiku sebagai Gen Z (dan nggak bakal nulis pake kaidah SEO) untuk menjabarkan kompleksitas kepenulisan digital di jaman sekarang yang sudah berubah.
Here we go.
Benar, bahwa hubungan antara baca dan nulis memang saling berkaitan
Aku nggak menyatakan bahwa kalimat “Gen Z sekarang malas baca” itu sepenuhnya salah. Tapi aku nggak membenarkan itu juga.
Kemalasan suatu generasi bukan penyebab tunggal. Jadi, apakah benar Gen Z sudah malas baca, hingga berujung ke penurunan traffic blog di jaman sekarang?
Logikanya nggak gitu juga.
Aku gemas banget kalau ada yang nyalahin kemalasan Gen Z bikin traffic blog turun, secara demografi kita yang sudah mendominasi di jaman ini. Bahkan sampe nyalahin di aspek membaca. Yah, klasik: nyalahin generasi.
In reality, Gen Z still read. Yes, we do. Justru di era brainrot ini, kita nyari escape demi mencegah ketergantungan doomscrolling hape. Salah satunya dengan baca buku.
Ini nyata loh. Sekarang banyak klub buku yang tersebar di seluruh daerah. Contohnya Indonesia Book Party yang punya cabang klub buku yang tersebar di seluruh daerah di Indo, seperti di Makassar, Jember, Palembang, Kediri, Lombok, bahkan sampai luar negeri di Tunisia dan Islamabad (Pakistan). Belum lagi klub buku lain seperti The Supper Book-Cult, Bookhive, Baca Bareng, dll.

Aku sendiri masih suka baca buku. Plus, I started to blog since 2013 karena suka baca artikel. Bahkan suka nyempetin waktu baca artikel pas masih kuliah meskipun banyak deadline perancangan.
Jadi, Kalau kenyataannya Gen Z banyak yang baca? Kenapa blog traffic makin nurun?
Well, ini penjabaran yang kompleks sekali, mengingat aku ini juga bagian dari Gen Z. Jadi begini kira-kira kemungkinan yang aku observasi:
Kebutuhan memperoleh informasi yang cepat dan instan
Ini isu yang nggak asing di era sekarang, mengingat informasi sekarang sudah banyak dikemas jadi berbagai format.
Pada dasarnya, Gen Z masih membaca. Tapi formatnya sudah beda: sekarang, kita prefer baca di Thread Twitter, caption foto di postingan, postingan visual yang menarik (termasuk berbentuk caroussel), dan video pendek. Semua dikarenakan cepatnya arus informasi yang bertebaran di internet. Kita nggak bisa menampik kenyataan itu.
Membaca sebenarnya nggak hilang, hanya nggak selalu dalam bentuk artikel panjang seperti sepuluh tahun yang lalu. Hanya saja peferensi format membaca kita sudah beda, menjadi lebih cepat, pendek, dan instan.
Persaingan perhatian yang lebih besar
Dari variasi format itu, efeknya internet makin dipenuhi video pendek, streaming, dan postingan rutin dari para kreator. Hal ini bikin kita sebagai kreator harus putar otak lagi gimana caranya bikin konten (tulisan kita, terutama) itu tetap dibaca.
Maka dari itu, hal ini juga yang bikin waktu membaca kita nggak selama era blog awal.
Gaya storytelling
Hal ini berpengaruh juga gimana selera generasi sekarang punya preferensi tersendiri dalam menyerap infomasi: format yang menarik dan engaging, bukan cuma informatif. Jadi, kita juga nyari tulisan yang bikin kita ngerasa relate.
Maka dari itu, gaya storytelling juga bermain peran yang krusial dalam menulis. Kita juga punya preferensi kreator siapa yang kira-kira cocok untuk kita, bisa dari gaya storytellingnya, dari tampilan visualnya, dari bagaimana dia engage ke audiensnya, dll.
Kalau cuma mengandalkan artikel panjang, jelas Gen Z sudah bosan duluan. Apalagi kalau tanpa gaya storytelling tersendiri.
Dan kadang aku masih lihat blogger lama yang masih menulis dengan gaya formal, seperti artikel yang cuma nulis “ini data”, “ini fakta”, “ini penjelasan”, tanpa ada bagian yang bikin kita merasa relate “ini gue banget”. Mungkin kalau bisa aku sebut sebagai gaya semi-jurnalistik nanggung.
Atau nulis artikel tentang event yang sebenarnya nggak perlu banget kita tahu: “event ini digelar oleh brand X…”, “Brand ini diinovasikan oleh Kak X sebagai founder…”, atau “acara diisi oleh Bu X…” yang terdengar hanya seperti laporan acara. Kalaupun dikombinasikan dengan narasi yang bikin Gen Z relate di kesimpulan artikel, masalahnya kita sebagai pembaca udah kabur duluan di pembukaan artikel. Jadi terkesan agak maksa untuk bikin artikel yang engaging buat Gen Z.
Fakta paling kejam yang harus diterima tentang istilah ‘blogger’ dan ‘blogging’
Mungkin bagi Gen Z yang sempet ngerasain masa jayanya blogging di website sebelum 2015, istilah ‘blogger’ sudah tidak asing, seperti aku. Simply penulis artikel di website. Blogger seakan sebuah gelar yang keren, karena punya website sendiri dengan nama dan brandingan sendiri, atau publish artikel di banyak web.
Tapi di jaman sekarang, dua istilah itu terkesan jadul banget, meskipun secara reputasi masih dihormati sebagai sepuh influencer.
Bahkan banyak teman Gen Z aku yang bahkan nggak paham banget apa dua istilah itu. Pertanyaan yang sering aku dapat saat nyebut diri aku sebagai ‘blogger’ adalah “Blogger itu apa kak?”, “Is it kind of vlogging?”, “Tadi bilang apa, kak? Vlogger?”
Nggak usah profesi sebagai ‘blogger’ deh. ‘Blogging’ aja udah asing terdengar kok.
Mungkin kalian merasa miris dan ngerasa Gen Z sebloon itu nggak tau istilah ‘blogger’ dan ‘blogging’. Tapi yah namanya jaman itu berjalan, semua memang ada masanya tersendiri. Kalian blogger yang udah hidup dari masa jayanya ‘blogging’ pasti marah. Tapi terima dulu kenyataannya pahitnya:
Istilah ‘blogger’ dan ‘blogging’ sudah terdengar jadul di jaman sekarang, bahkan mulai asing, meskipun banyak generasi muda yang juga menulis artikel secara digital.
But that doesn’t mean we don’t write. Nyatanya, kita masih nulis. Bedanya kita makai istilah lain aja.
Memakai istilah lain
Jaman sekarang, meskipun masih ada yang nulis (yang sebenarnya blogging juga), kita nggak memakai istilah ‘blogging’ lagi. Kita pakai istilah ‘nulis’.
Dan istilah profesi ‘blogger’ sudah bergeser menjadi ‘penulis’ atau ‘writer’, entah itu penulis artikel di blog pribadi (lagi-lagi), penulis berita, atau penulis jurnal harian. Istilah penulis jadi ‘payung’ sebutan dari kesemua jalur kepenulisan kita, sehingga jadi terdengar simpel dan lebih keren.
Terlebih, stereotip dulu mengganggap ‘penulis’ sebagai penulis buku fisik saja. Sekarang, kami menyematkan istilah ‘penulis’ sebagai payung dari kesemua kategori tulisan, termasuk tulisan di blog.
Atau paling tidak, kita menyebut diri kita sebagai ‘content creator’, dengan memproduksi tulisan baik di blog maupun di medsos. Dan medsos adalah pintu paling mudah untuk memperkenalkan tulisan kita.
Jadi kesimpulannya, istilah lama ‘blogger’ atau ‘blogging’ sudah bergeser, menjadi ‘nulis’ dan ‘penulis’, atau ‘content creator’. Meskipun benang merahnya masih sama: menulis di platform digital.
Platform Membaca dan Menulis yang Sudah Beda
Selain permasalahan literasi digital dan istilah yang bergeser, platform juga berganti dari website ke platform membaca dan menulis.
Jaman sekarang, pilihan aplikasi Gen Z membaca adalah Medium dan Substack untuk kepenulisan artikel.
Medium

Dari observasi yang aku temui di lapangan, sejauh ini ternyata nggak ada yang punya website selain aku. Seperti ngelola CMS sendiri, ngatur template, ngatur peletakan widget, hosting, bahkan mikirin strategi kepenulisan pake SEO. Mostly they don’t have it.
Kalo orang suka baca, biasanya suka nulis juga, meski nggak semua atau frekuensinya nggak sesering baca. Nyatanya, mereka punya akun Medium. Kira-kira 90% dari mereka.
Apa sebabnya mereka milih Medium?
Platformnya lebih dikenal dan gampang digunakan
Penyebabnya adalah Medium sudah banyak dikenal orang. Terlebih, user experiencenya lebih smooth, bersih, dan nggak seberat baca di website yang suka keberatan karena punya fitur tersendiri.
Dan mereka nggak mau ribet harus ngatur hosting, widget atau template, seribet kita punya website. We just want to write and publish. Selesai. Artikel langsung terbit tanpa muluk-muluk kita ngatur ini itu buat tampilan web. Kalau dengan pola sesimpel itu artikel kita bisa langsung terbit, ngapain kita ribet-ribet ngelola website?
Sistem berjejaring yang gampang kayak sosmed
Terlebih, banyak teman-teman kita yang sudah punya akun Medium dan nulis di situ. Biar artikel kita dibaca, salah satu promosi artikel paling dekat jelas ke teman dulu kan? Apalagi sudah sama-sama punya akun Medium, jelas kita akan mudah promosiin artikel kita.
Di samping itu, kalo kita mau berjejaring dengan penulis lain dan ikut artikel mereka, cukup klik Follow. Setelah mem-follow mereka, kita langsung otomatis dapat pemberitahuan lewat email maupun push notification saat mereka publish artikel.

Interaksi di artikel yang lebih hidup
Ini salah satu fitur yang paling disuka Gen Z: highlight. Jadi kalau ada kalimat atau paragraf yang menurut mereka bagus atau relate, mereka tinggal highlight tulisan itu. Setelah itu mereka bisa share atau beri tanggapan, seperti nulis komen tapi untuk kalimat tertentu yang mereka highlight.
Fitur ini jelas nggak ada di website. Kita malah harus scroll down ke paling bawah artikel untuk komen. Tapi bagi Gen Z, kecepatan interaksi itu krusial. Seperti yang udah dibahas tadi mengenai kebutuhan memperoleh informasi yang cepat dan instan. Di aspek ini, kita berinteraksi secara instan dengan kalimat tertentu di sebuah artikel. “Oh, gue relate banget nih sama kalimat ini!”, “Couldn’t agree more with this line”
Kalau di website? Kita harus scroll down dulu ke paling akhir kalimat kalau mau komentar. Belum ada fitur highlight pula.
Terlebih, kalau artikel itu bagus, kita bisa beri clap sebanyak yang kita mau. Clap ini seperti fitur like di medsos, tapi kita bisa kasih jumlah clap sesuka hati kita, kayak kasih clap sebanyak 5, 10, 12, bahkan 20.

Kalau di website, entahlah, apakah ada fitur serupa ‘like’ kayak gini?
Algoritma Medium
Medium bakal nampilin artikel yang relevan atau berkualitas. Hal ini diukur dari lamanya orang baca apakah mereka baca sampai selesai, banyaknya claps, komentar, dan highlight. Semakin banyak interaksi, semakin besar kemungkinan artikel direkomendasikan.
Topik dan tag per artikel hanya ditentukan sebanyak 5 topik. Memang nggak sebebas ngatur tag di website. Tapi dengan pembatasan banyaknya tag itu, artikel makin terkurasi secara spesifik dan berkualitas. Dan algoritma Medium bakal nampilin artikel kepada orang yang suka baca topik tersebut.
Medium punya feed, kayak di sosmed aja
Yap, Medium punya feed, sama kayak Facebook dan Instagram.

Setelah kita buka Medium, seperti halnya medsos, kita bisa scroll down artikel yang udah terkurasi oleh Medium sesuai algoritma pilihan bacaan kita. Dan kita bebas memilih artikel mana yang mau kita baca.
Eksposur internasional lebih gampang (untuk yang nulis artikel pake Bahasa Inggris)
Medium nggak cuma terkenal di Indonesia aja, tapi secara internasional. Wajar, Medium asalnya dari Amerika Serikat dan dibangun untuk pasar global, lingua francanya pun Bahasa Inggris. Maka dari itu, artikel Bahasa Inggris bakal lebih banyak yang baca, asal framing storytellingnya tepat untuk pembaca global.
Tambahan: berjejaring secara internasional yang lebih gampang
Mungkin ini yang nggak banyak orang tahu: Medium suka mengadakan ‘Writing Session’.
Jadi, penulis bisa join Zoom ‘Writing Session’ untuk menulis, sambil dengerin lagu lo-fi, sambil promosiin akun/artikel kita di kolom chat. Banyak penulis internasional dengan niche tersendiri promosiin artikel mereka, entah mereka nulis tentang self-development, fiction, economy, dan lain-lain di kolom chat.
Kenapa di kolom chat? karena NGGAK ADA SHARING SESSION SETELAH WRITING SESSION!! HUHUHU! Ini sih yang aku keluhkan dari ‘Writing Session’ Medium. Tapi setelah memperkenalkan diri niche tulisanku, ternyata makin banyak yang baca artikelku. Jadi nggak percuma juga sebenarnya.
Ada lagi selain Medium
Lagi-lagi, ada platform lain selain Medium. Yaitu Substack.
Substack

Sistem newsletter
Di Substack, tulisan dikirim langsung ke email subscriber. Jadi penulis nggak bergantung algoritma, dan pembaca nerima tulisan langsung di inbox email mereka.
Ini beda sama Medium yang sangat bergantung dari feed dan rekomendasi algoritma. Bagi banyak penulis, email subscriber dianggap aset yang lebih stabil. Di website pun kadang kita malah harus install plugin buat bagiin artikel terbaru kita. Ribet lagi kan?

#FunFact: akhir-akhir ini memang sedang banyak penulis Medium yang diisukan pindah ke Substack karena hal ini.
Gaya kepenulisan yang lebih personal
Banyak newsletter di Substack terasa kayak ‘surat kepada pembaca’, refleksi pribadi, dan esai opini. Format ini cocok buat penulis yang ‘jiwa artistiknya kuat’ dan pingin nulis dengan gaya lebih intim.
Nggak cuma buat seniman, Substack juga cocok untuk penulis yang sudah punya niche, opini, dan brandingan tersendiri. Di sana banyak banget tulisan diary, puisi, atau karya gambar mereka yang mereka kembangkan jadi tulisan.
Fitur nulis yang lebih variatif
Di Substack, ada fitur nulis yang bisa disesuaikan dengan genre tulisannya. Ada fitur buat gambar grafik bagi yang mau nulis artikel infografis, ada fitur untuk menulis resep, ada fitur untuk menulis puisi, dan banyak fitur nulis lainnya.
Fitur chat
Ini yang nggak dipunya Medium: Substack punya fitur chat untuk subscriber. Kita bisa chat ke subscriber kita dari tulisan artikel kita sampai hal-hal random. Sama halnya seperti channel chat di Instagram. Jadi, fitur inilah yang bikin pembaca merasa lebih dekat dengan penulis.

So, apakah Blog Sudah Mati di kalangan Gen Z?
Jadi, kalau ada yang bilang ‘Blogging era sudah mati’ di kalangan Gen Z, sebenarnya kita masih nulis kok. Hanya saja sudah beda format dan platform.
Gen Z sebenarnya nggak berhenti blogging, kita cuma mengubah bentuk dan medianya agar lebih sesuai dengan kebiasaan digital kita yang serba cepat dan personal. Aktivitas yang dulu disebut blogging sekarang berbentuk thread media sosial, caption panjang, newsletter, sampai konten storytelling di berbagai platform.
Istilah “blogger” sendiri mulai asing, sampai banyak dari kita tidak lagi menyebut diri kita sebagai ‘blogger’, meskipun tetap aktif menulis. Perubahan ini juga dipengaruhi oleh cara konsumsi konten yang sekarang lebih singkat, visual, dan langsung to the point.
Jadi, bukan karena kita Gen Z malas menulis atau membaca, melainkan karena kita menjalankan aktivitas itu dengan cara yang berbeda: lebih fleksibel, lebih cepat, dan lebih relevan dengan ritme hidup kita sekarang.


