#DiaryVeni

Menyelami Arsip Kolonial Belanda

Kali ini, aku nggak nulis artikel ilmiah atau yang berat-berat. Aku mau sharing aja, gimana dan apa yang aku temukan selama menyelami arsip Belanda untuk mencari jejak pekerjaan kakek buyutku yang dulunya bekerja sebagai masinis kereta di bawah pemerintahan Belanda (baca: VOC atau kompeni).

Sebenarnya aku baru tahu cerita tentang kakek buyutku di tahun 2021. Sebelumnya, aku hanya tahu cerita tentang kakek-kakek aku yang sakti, seperti ilmu menghilang lah, ilmu kebal lah, dan istilah memegang pusaka yang nggak aku paham banget. Aku pikir, toh, ya sudah, emang udah biasa kan kalo orang Indonesia (katanya) sakti-sakti? Jadi, aku nggak merasa itu sesuatu yang istimewa banget. Sudah biasa sekali.

Tapi cerita kakek buyutku yang ini beda sekali. Masinis di jaman Belanda? Kedengarannya kerjaan yang keren sekali.

Jadi, dia itu orang Makassar yang ditugaskan jadi masinis di bawah pemerintahan Belanda di bawah Staatstramwegen op Celebes di sekitar tahun 1923. Lalu di tahun 1930, dia dipindahtugaskan ke pulau Jawa. Dinas pertamanya di Pulau Jawa adalah di Pasuruan, Jawa Timur. Setelah itu, ia menghabiskan sisa hidupnya di Klakah.

….

Aku mulai investigasi dengan menelpon pakde-bude aku yang ada di Jawa Timur. Sayangnya, ingatan mereka juga sudah samar-samar, mengingat banyak saudara jauh yang sudah hidup berpencar dan putus kontak. Mereka menyuruh aku investigasi langsung, tapi kurang memungkinkan karena harus menghubungi saudara jauh dan tidak sempatnya waktu.

Jadi, aku investigasi sendiri dulu lewat internet.

Awalnya aku nggak sengaja scroll FB. Ada seseorang yang posting foto prajurit KNIL Belanda yang berpose di jembatan Magelang di tahun 1946. Postingan itu disertai sumber websitenya di Indiegangers.

Lalu terlintas di kepala aku, siapa tahu ada dokumentasi tentang kakek buyutku. Atau minimal tempat kerjanya lah.

Jadi, mulailah petualangan digital ini.

Pertama, aku searching di Indiegangers. Aku pikir itu situs untuk dokumentasi atau arsip kolonial di Indonesia. Aku lihat-lihat, kok malah kebanyakan foto kompeni? Ada yang foto dengan senapan lah, foto kapal lah, foto bergrup di barak lah, bahkan ada foto kayak di bawah ini….

Yep. I’m not joking. Ini foto dari situsnya sendiri. Sumber: Indiegangers
Kurang ngeselin gimana coba ini kompeni cowok pake baju kebaya cewek?

Lihat foto ini pun aku ketawa ngakak.

Aku sudah pakai keyword “Staatstrawegen op Celebes”, dan “Staatstramwegen” pun nggak ada hasilnya. Kalaupun pakai keyword “Celebes”, dokumentasinya sedikit sekali.

Pakai keyword “Tram” pun hanya kebanyakan ketemu di Batavia dan Surabaya. Keyword “Pasoeroean” pun hanya ada foto tibanya prajurit di sana.

Makin lama aku bingung. Ternyata situs ini khusus mengarsipkan foto-foto veteran Belanda yang bertugas di Indonesia saja. Nggak ada foto pribumi.

Berarti foto kakek buyut aku nggak ada.

Lalu aku mencari situs Belanda yang lain. Kali ini Delpher, situs arsip kolonial terbesar di Belanda. Ada arsip surat kabar, majalah, iklan, buku.

Keyword yang aku cari untungnya ketemu. Kebanyakan di surat kabar. Sesuai dengan apa yang diceritakan pakde-budeku. Rute tram Takalar beroperasi di tahun sebelum 1930, sekitar tahun 1923.

Buku tentang Perkeretaapian Hindia Belanda. Sumber: Delpher

Di situ tertulis mulai beroperasi di tahun 1922. Yah, meleset sedikit. Namanya juga wes tuek.

Lalu, karena keuangan Belanda menipis, ditambah krisis The Great Depression di tahun 1930. Perkeretaapian di Sulawesi terpaksa ditutup, karena merugi terus sejak pembukaannya.

Setelah itu, dipindahtugaskanlah kakek buyut aku ke Pasuruan, Jawa Timur. Sayangnya, nama pribumi jarang banget ditulis karena peraturan pembagian tiga golongan buatan kompeni itu. Jadi, meskipun pribumi kerja untuk Belanda, nama mereka tetap nggak ditulis. Mostly hanya ditulis sebagai ‘inlander’ lalu diikuti dengan pekerjaannya.

Di atas adalah surat kabar pengangkatan ambtenaar (pegawai) dan pemindahtugasan. Dan, ya, nggak ada jejak nama pribumi, apalagi di bawah perusahaan kereta/trem. Sumber: Delpher

Ada satu kolom yang mengumumkan hasil sertifikasi masinis, yang pengumumannya masih didominasi nama orang Belanda.

Pembagian gaji untuk masing-masing profesi per bulan (sekitar tahun 1926)
laporan resmi pemerintah kolonial tentang struktur gaji pegawai negeri di Hindia Belanda tahun 1926
ringkasan total sistem penggajian pegawai pemerintah Hindia Belanda tahun 1925. anggaran yang totalnya sekitar 159 milyar gulden, jika dikonversikan dari gulden ke rupiah untuk saat ini totalnya 115 triliun rupiah.

Detail kan pegarsipan mereka? sayangnya diskriminatif aja sama pribumi sampe pegawai pribumi pun jarang ditulis di pengangkatan pegawai mereka di surat kabar manapun. Jadi, ya, nama buyutku nggak ada :’)

Saking kesalnya, aku sampai nulis artikel ini: Dutch Colonial Archives Recorded Everything, Except People Like My Great-Grandfather. Ini dalam bahasa Inggris btw. Ini hanya tulisan unek-unek tentang nggak adilnya Belanda sampai ke pengarsipan dan dokumentasi nama untuk pribumi. Silahkan bagi yang mau baca. Aku terima pendapat, kritik dan saran. Yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *